Ponorogo (beritajatim.com) – Keputusan berpindah sekolah bukan perkara mudah bagi Sabrina Septianasari. Sabrina sapaan akrabnya saat ini merupakan calon siswa baru di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 5 Ponorogo tahun ajaran 2026-2027.
Siswi yang sebelumnya menempuh pendidikan di MA Miftahul Ulum Balong itu rela meninggalkan sekolah lamanya demi bergabung dengan sekolah dalam naungan Kementerian Sosial tersebut.
Di balik keputusan itu, ada alasan sederhana tapi menyentuh hati. Yakni Sabrina tidak ingin membebani ibunya yang masih harus membiayai 2 adiknya.
Tekad itu disampaikan Sabrina saat menghadiri Pengarahan dan Penyerahan Surat Keputusan Bupati Ponorogo tentang Penetapan Peserta Didik Baru Sekolah Rakyat Ponorogo. Dia mengaku bergabung dengan SR atas keinginannya sendiri. Program pendidikan gratis menjadi harapan agar keluarganya tidak lagi terbebani biaya sekolah.
“Pengennya ya biar tidak membebankan ibu. Insya Allah mau mandiri juga,” ungkap Sabrina saat ditemui beritajatim.com, Kamis (9/7/2026).
Beban Berat Keluarga
Sabrina menceritakan dirinya saat ini naik ke kelas XI. Sementara 2 adiknya masih duduk di bangku sekolah, dengan adik pertama akan naik ke kelas IX. Kondisi itulah yang membuatnya mantap masuk Sekolah Rakyat, setelah memperoleh informasi dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Sebelumnya sekolah di MA Miftahul Ulum. Mau pindah sekolah karena saya punya 2 adik. Tahunya sekolah rakyat ini ya dari pendamping PKH. Tertariknya karena sekolahnya gratis,” katanya.
Meski lokasi pembelajaran setahun ke depan berada di Madiun, Sabrina mengaku siap menjalani kehidupan baru sebagai siswa berasrama. Baginya, kesempatan memperoleh pendidikan tanpa membebani keluarga jauh lebih penting dibanding rasa khawatir meninggalkan rumah.
“Iya tahu nanti di Madiun, Insya Allah siap,” ucapnya singkat.
Kisah Sabrina menjadi satu dari puluhan cerita perjuangan keluarga yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada Sekolah Rakyat. Program yang digagas pemerintah itu memang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap memperoleh akses pendidikan yang layak.
Selain bebas biaya, siswa juga mendapatkan pembinaan karakter melalui sistem pendidikan berasrama.
Kuota Belum Terpenuhi
Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan tahun ini Sekolah Rakyat Ponorogo menerima 76 peserta didik untuk 3 kelompok, yakni SD, SMP dan SMA. Untuk jenjang SD, kuota masih belum terpenuhi meski proses penerimaan dilakukan melalui seleksi. Menurutnya, tidak semua pendaftar bisa diterima karena setiap rombongan belajar dibatasi sebanyak 30 siswa.
“Jumlah siswanya ini ada 76. Per rombel itu 30. Untuk SD kami masih kurang. Sebenarnya ini melalui seleksi, tidak semua bisa masuk. Memang program ini sangat luar biasa,” kata Bunda Lisdyarita.
Lisdyarita berpesan kepada seluruh siswa agar tidak merasa rendah diri karena bersekolah di Sekolah Rakyat. Dia menegaskan keberhasilan seseorang tidak ditentukan dari tempat belajar, melainkan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Semangat itulah yang terus ditanamkan kepada seluruh peserta didik sejak hari pertama.
“Sudah saya sampaikan ke mereka bahwa masa depan bukan dari tempat kalian berada, tapi dari mana kalian belajar dengan keras. Sehingga mereka akan jadi anak-anak sukses. SR ini sekolah yang orang kadang memandang sebelah mata, tapi ternyata luar biasa kegiatannya,” katanya.
Raih Penghargaan
Dia mencontohkan, para siswa Sekolah Rakyat mampu menunjukkan prestasi dalam berbagai kegiatan. Saat mengikuti FNRP beberapa waktu yang lalu, grup reog SE Ponorogo berhasil meraih penghargaan. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa Sekolah Rakyat memiliki kualitas yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dalam kesempatan itu, Lisdyarita juga mengaku memahami perasaan para orang tua yang harus melepas anak tinggal di asrama. Namun, Dia berharap seluruh wali murid benar-benar ikhlas agar anak dapat mengikuti pendidikan secara maksimal. Dukungan keluarga dinilai menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
“Harapan saya yang penting orang tua ikhlas menaruh anaknya di SR ini. Kalau tidak ikhlas dibawa pulang lagi. Kalau mereka ikhlas, otomatis anaknya benar-benar belajar dengan baik sehingga jadi anak yang sukses ke depan,” pungkasnya. (end/but)






