Yogyakarta (beritajatim.com) – Tren polyworking atau memiliki lebih dari satu pekerjaan semakin banyak dijumpai di Indonesia seiring berkembangnya sistem kerja yang lebih fleksibel. Fenomena ini tidak hanya dialami generasi muda, tetapi juga didominasi oleh pekerja usia produktif hingga menjelang pensiun.
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Qisha Quarina, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa polyworking merupakan kondisi ketika seseorang menjalankan lebih dari satu pekerjaan yang sama-sama menghasilkan pendapatan.
Meski istilah polyworking belum digunakan secara resmi dalam statistik ketenagakerjaan nasional, konsep tersebut sebenarnya telah lama dikenal melalui kategori pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).
“Kalau kita berbicara polyworking dalam arti ada pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan, itu tentunya tidak spesifik hanya untuk Gen Z. Tinggal lagi konteksnya apa dulu,” ujar Qisha, Selasa (7/7).
Bukan Hanya Fenomena Gen Z
Banyak anggapan menyebut generasi muda menjadi kelompok yang paling banyak menjalani beberapa pekerjaan sekaligus. Namun, data justru menunjukkan fakta berbeda.
Berdasarkan hasil olahan data Sakernas Agustus 2024, terdapat sekitar 19,29 juta pekerja atau 13,34 persen dari total pekerja di Indonesia yang memiliki pekerjaan tambahan.
Kelompok usia 45–54 tahun menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 25,83 persen, disusul pekerja berusia 55 tahun ke atas sebesar 25,66 persen, serta kelompok 35–44 tahun sebesar 25,40 persen.
Sementara itu, pekerja berusia 15–24 tahun hanya mencapai 4,95 persen, sedangkan kelompok usia 25–34 tahun sebesar 18,17 persen.
“Kalau kita melihat skala yang lebih besar, fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi pada generasi tertentu,” jelasnya.
Alasan Utama: Menambah Penghasilan
Menurut Qisha, dalam perspektif ekonomi ketenagakerjaan, keputusan mengambil pekerjaan tambahan merupakan pilihan yang rasional.
Seorang pekerja harus membagi waktu antara bekerja, beristirahat, dan menjalani aktivitas pribadi. Ketika seseorang rela mengurangi waktu luangnya untuk bekerja lebih banyak, biasanya ada tujuan ekonomi yang ingin dicapai.
“Secara rasional ketika orang bekerja sampingan di luar pekerjaan utama, artinya pekerjaan utamanya belum cukup untuk memenuhi standar hidupnya,” katanya.
Dengan kata lain, pekerjaan tambahan menjadi strategi untuk meningkatkan pendapatan sekaligus menjaga kesejahteraan keluarga di tengah meningkatnya kebutuhan hidup.
Mayoritas Pekerjaan Tambahan Ada di Sektor Informal
Data Sakernas juga menunjukkan sebagian besar pekerjaan tambahan berada di sektor informal.
Sebanyak 86,79 persen pekerjaan tambahan merupakan pekerjaan informal, sedangkan hanya 13,21 persen yang berada di sektor formal.
Menariknya, pekerja yang telah memiliki pekerjaan utama di sektor formal pun sebagian besar menjalankan pekerjaan sampingan di sektor informal. Persentasenya mencapai sekitar 78 persen.
Menurut Qisha, kondisi ini menunjukkan bahwa fenomena polyworking belum tentu mengurangi peluang kerja formal bagi pencari kerja baru karena karakteristik kedua sektor tersebut berbeda.
Bisa Menambah Nilai CV, Tetapi Ada Risikonya
Memiliki beberapa pengalaman kerja sekaligus tidak selalu dipandang negatif oleh perusahaan.
Apabila pekerjaan tambahan masih relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan, pengalaman tersebut justru dapat memperkaya keterampilan dan meningkatkan daya saing pelamar kerja.
Namun sebaliknya, apabila seseorang terlalu sering berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, hal itu dapat memunculkan persepsi kurang baik dari perusahaan, terutama jika organisasi mencari karyawan yang memiliki komitmen jangka panjang.
“Ada dua sisi yang harus kita lihat, apakah itu membantu enhancing CV, atau justru menjadi signaling mengenai motivasi pekerjanya,” ungkapnya.
Tetap Aktif Bekerja Dinilai Lebih Baik
Qisha menilai keterlibatan aktif di dunia kerja sangat penting untuk menjaga kualitas sumber daya manusia.
Seseorang yang terus bekerja akan terus mengembangkan keterampilan, memperluas pengalaman, dan lebih cepat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia industri dibandingkan mereka yang lama menganggur.
“Selama orang itu engage actively in the labor market itu lebih baik dibanding dia disengage. Ketika aktif bekerja, dia terus meng-exercise human capital-nya,” tuturnya.
Pesan untuk Mahasiswa dan Fresh Graduate
Menjelang memasuki dunia kerja, mahasiswa maupun lulusan baru diimbau tidak hanya berfokus mencari sebanyak mungkin pekerjaan.
Qisha menekankan pentingnya membangun komitmen profesional, mengelola waktu dengan baik, serta memahami hak-hak sebagai pekerja, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi pekerja lepas atau freelancer.
Menurutnya, fleksibilitas bekerja harus diimbangi dengan tanggung jawab profesional agar karier dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Komitmen itu penting. Selain itu, pahami juga hak Anda sebagai pekerja, karena sering kali pekerja lepas belum menyadari perlindungan yang menjadi haknya,” pungkasnya [aje]

as a preferred source on Google




