Surabaya (beritajatim.com)- Menulis sering kali terasa lancar di kepala, tetapi ketika dituangkan ke dalam teks, hasilnya justru dipenuhi kata yang itu-itu saja. Kata tertentu muncul berulang dalam satu paragraf, bahkan dalam kalimat yang berdekatan.
Hal ini wajar, terutama ketika penulis terlalu fokus menyampaikan ide hingga lupa memerhatikan variasi bahasa. Meski terlihat sepele, pengulangan kata dapat membuat tulisan terasa monoton dan kurang nyaman dibaca. Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa diperbaiki dengan beberapa langkah sederhana.
Sadar dan Peka terhadap Kata yang Sering Diulang
Menyadari bahwa terdapat pengulangan kata adalah langkah pertama untuk mengubah kebiasaan ini. Banyak penulis tidak merasa mengulang kata karena sudah terbiasa dengan diksi tertentu. Cobalah membaca ulang tulisan secara perlahan dan tandai kata yang muncul terlalu sering, seperti “yang’, “jadi”, atau kunci utama dalam topik. Penulis bisa mulai mengevaluasi bagian mana yang perlu diperbaiki agar tulisan terasa lebih variatif dengan kepekaan ini.
Manfaatkan Sinonim dengan Tepat
Sinonim adalah solusi paling umum untuk menghindari pengulangan kata, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan konteks. Misalnya, kata “mengatakan” bisa diganti dengan “menyampaikan”, “mengungkapkan”, atau “menuturkan”. Namun, setiap kata memiliki nuansa makna yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk memilih sinonim yang tetap selaras dengan maksud kalimat agar pesan tidak berubah.
Ubah Struktur Kalimat
Pengulangan kata tidak selalu dihindari dengan mengganti kalimatnya. Lebih efektif mengubah struktur kalimatnya. Satu gagasan bisa disampaikan dengan pola yang berbeda, misalnya dengan memecah kalimat panjang menjadi dua kalimat pendek atau mengubah kalimat aktif menjadi pasif. Teknik ini membantu tulisan terasa lebih dinamis tanpa kehilangan makna.
Gunakan Pronomina atau Kata Rujukan
Pengulangan kata benda dapat diatasi dengan penggunaan kata ganti atau kata rujukan seperti “ia”, “mereka”, “ini”, atau “tersebut”. Misalnya, daripada terus mengulang nama objek yang sama, penulis bisa merujuknya dengan kata ganti setelah disebutkan di awal. Cara ini membuat tulisan lebih ringkas dan mengalir, asalkan rujukannya jelas dan tidak membingungkan pembaca.
Perkaya Kosakata secara Bertahap
Keterbatasan kosakata sering menjadi penyebab utama pengulangan kata. Untuk mengatasinya, penulis perlu membiasakan diri menjadi membaca berbagai jenis bacaan, mulai dari artikel, esai, hingga karya sastra. Dari aktivitas membaca, penulis akan menemukan banyak pilihan diksi baru yang bisa digunakan dalam tulisan. Memperkaya kosakata tidak harus dilakukan secara instan, tetapi cukup konsisten.
Lakukan Penyuntingan Setelah Menulis
Pengulangan kata sering muncul pada draf pertama, dan itu hal yang wajar. Fokus utama pada tahap awal adalah menuangkan ide. Setelah tulisan selesai, barulah lakukan penyuntingan dengan menelusuri kata-kata yang berulang. Proses ini membantu penulis memilih diksi yang lebih tepat dan menyempurnakan kualitas tulisan secara keseluruhan.
Pengulangan kata tidak harus dihindari dengan menulis bahasa yang yang rumit atau berlebihan. Tetapi tujuan utamanya adalah membuat tulisan lebih nyaman dibaca dan enak dinikmati. Kemampuan menulis akan berkembang secara alami dengan kesadaran, latihan, dan kebiasaan menyunting yang rutin. Ingat, menulis adalah proses belajar dan setiap perbaikan kecil akan membawa tulisan ke tingkat yang lebih baik. [Nazala Habibah Fathyadin]






