Ponorogo (beritajatim.com) – Di tengah arus libur Natal dan Tahun Baru yang kerap identik dengan bepergian ke luar kota, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo justru mengajak warganya berhenti sejenak dan menoleh ke sekitar. Sebab, di balik perbukitan, telaga, hingga sudut-sudut kota, Ponorogo menyimpan beragam destinasi wisata yang layak dinikmati, tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Momentum libur panjang Nataru kembali menghidupkan denyut sektor pariwisata. Arus wisatawan meningkat, tempat-tempat rekreasi mulai padat, dan ruang-ruang publik kembali ramai. Di Ponorogo, situasi ini dibaca sebagai peluang, bukan sekadar musim liburan biasa.
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, secara terbuka mengimbau masyarakat agar memanfaatkan masa libur ini dengan berwisata di dalam daerah. Menurutnya, Ponorogo memiliki kekayaan destinasi yang tak kalah menarik dibandingkan kota-kota tujuan wisata lain di Jawa Timur.
“Liburan ini, ayok berwisata di Ponorogo saja, tidak harus ke luar kota. Disini kan banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi,” kata Lisdyarita, Rabu (24/12/2025).
Ajakan tersebut bukan tanpa alasan. Kabupaten Ponorogo, kata Lisdyarita, menyimpan ragam pilihan wisata yang lengkap. Yakni mulai dari panorama alam hingga destinasi ramah keluarga yang cocok dikunjungi bersama anak-anak selama libur sekolah.
“Ada wisata Telaga Ngebel, ada Puncak Khayangan, Air Terjun Sunggah, Gunung Gajah. Lalu ada wisata air, ataupun Waterboom untuk anak-anak. Seperti yang di Jambon, di kota ada Jatimori dan banyak lagi,” terangnya.
Tak hanya sektor wisata alam dan wahana, geliat pariwisata Ponorogo juga ditopang oleh perkembangan kuliner yang semakin beragam. Dalam beberapa tahun terakhir, kafe dan tempat makan tumbuh di berbagai sudut kota, menawarkan alternatif rekreasi yang lebih santai namun tetap diminati keluarga.
“Ada banyak kafe yang ada di sepanjang jalan Jenderal Sudirman atau di Urip Sumoharjo. Kalau untuk makan juga banyak variasinya, selain sate ayam, ada aneka olahan ayam, kemudian bebek, seafood, hingga beragam jajanan, semua ada tinggal pilih,” pungkasnya.
Libur panjang Nataru pun menjadi ruang strategis bagi perputaran ekonomi lokal. Ketika wisatawan memilih tinggal dan berbelanja di daerah sendiri, pelaku UMKM, mulai dari pedagang makanan, pengelola wisata, hingga sektor jasa ikut merasakan dampaknya. Di tengah tren liburan ke luar kota, Ponorogo mencoba menegaskan satu pesan sederhana. Yakni berwisata tak selalu soal jarak. Kadang, cukup dengan mengenali dan menikmati apa yang ada di sekitar, roda ekonomi bisa bergerak, dan identitas daerah tetap terjaga. [end/aje]






