Gresik (beritajatim.com) – Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 45 Kota Semarang kini menjadi contoh bagi Kabupaten Gresik dalam membangun pendidikan berbasis integrasi yang menyentuh masyarakat kurang mampu.
Gresik berencana mengembangkan SR untuk tingkat sekolah dasar (SD) setelah sukses dengan pendirian Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 di Sidayu yang saat ini telah mengoperasikan 75 siswa dari keluarga desil 1.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menyatakan bahwa studi tiru ini dilakukan karena pihaknya berencana membangun SR tingkat dasar pada tahun depan. “Kami ingin belajar apa yang menjadi kesulitan mendirikan SR sekolah dasar,” ujarnya dalam acara yang berlangsung pada Minggu, 31 November 2025.
Tujuan utamanya adalah untuk menggali lebih dalam tentang tantangan dalam mendirikan sekolah yang fokus pada anak-anak dari keluarga miskin.
“Untuk itu, kami belajar ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang,” imbuh Fandi, mengungkapkan bahwa program sekolah rakyat di Gresik akan mengadaptasi konsep yang telah sukses diterapkan di Semarang.
Keberhasilan SR Terintegrasi 45 ini diharapkan dapat menjadi model untuk implementasi SR tingkat dasar yang lebih luas di Kabupaten Gresik.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemensos RI, Robben Rico, menekankan pentingnya Sekolah Rakyat dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. Robben mengungkapkan bahwa awalnya banyak kabupaten/kota yang kurang peduli dengan pendirian sekolah rakyat.
Namun, kini kesadaran tentang pentingnya program ini semakin berkembang, khususnya untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan. Berdasarkan data Kemensos, saat ini terdapat 13.864 anak usia 7-12 tahun di Jawa Tengah dan 23.041 di Jawa Timur yang belum mengenyam pendidikan.
Menurut Robben, ada tiga prinsip utama yang harus dijalankan oleh sekolah rakyat: pertama, memuliakan orang kecil; kedua, menjangkau mereka yang belum terjangkau pendidikan; dan ketiga, memungkinkan hal yang tampaknya mustahil.
“Lulusan sekolah rakyat bukan hanya pintar, tapi juga memiliki karakter yang kuat dan terampil,” ujar Robben, menambahkan bahwa Kemensos juga menyediakan 2.600 beasiswa bagi siswa sekolah rakyat.
Pemerintah juga bekerja sama dengan Pemkab Gresik untuk membangun sekolah rakyat terintegrasi di atas lahan seluas 6,5 hektar. Dengan adanya sekolah terintegrasi ini, diharapkan dapat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menegaskan bahwa studi komparasi ini merupakan bagian dari upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, terutama melalui pengembangan Sekolah Rakyat yang terintegrasi.
Keberadaan SR Terintegrasi 45 di Semarang juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan akses bagi semua lapisan masyarakat.
Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan Sekolah Rakyat menjadi model yang lebih banyak diadopsi oleh daerah-daerah lain di Indonesia, sebagai bagian dari upaya bersama menuju pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan. [adv/dny]






