Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Budaya dan Filkom Universitas Brawijaya (FIB UB) meluncurkan Batikpedia, platform digital berbasis web dan aplikasi mobile yang mengintegrasikan AI untuk pelestarian Batik Jawa Timur. Melalui kolaborasi antara FIB dan Fakultas Ilmu Komputer (Filkom), UB secara resmi meluncurkan website dan aplikasi mobile “Batikpedia” pada Sabtu (22/11/2025).
Peluncuran ini menandai langkah besar digitalisasi budaya di bawah payung program Globalizing UB. Proyek bertajuk “Transformasi Batik Jawa Timur melalui Teknologi Digital dan AI” ini diinisiasi sebagai respons akademis untuk menjaga keberlanjutan batik di era modern.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Sahiruddin, Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa Batikpedia adalah wujud nyata dari Digital Humanities.
“FIB memiliki komitmen kuat dalam pengembangan program unggulan digitalisasi budaya. Launching ini merupakan kolaborasi strategis; Filkom berkontribusi pada aspek teknologi, sementara FIB menyediakan landasan narasi budayanya,” ujar Sahiruddin kepada beritajatim.com, Minggu (23/11/2025).
Ia juga mengapresiasi dukungan penuh dari Rektor UB serta kemitraan strategis dengan Asosiasi Perajin Batik Kota Malang yang menjadi mitra vital dalam penyediaan data riset.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menekankan tanggung jawab moral universitas pasca pengakuan UNESCO terhadap batik.
“Universitas memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk turut melestarikan batik. Proyek ini langkah strategis karena mendokumentasikan motif secara digital, sehingga bisa diakses secara global. Ini memperkuat literasi dan pengetahuan batik di kancah internasional,” tegas Prof. Widodo
Ketua Tim Proyek, Fitriana Puspita Dewi, Ph.D., menjelaskan bahwa Batikpedia lahir dari riset bersama Art Research Centre Ritsumeikan University, Jepang. Platform ini dirancang sebagai cikal bakal Institut Virtual Batik Jawa Timur.
Saat ini, website www.batikpedia.cloud telah memuat database komprehensif yang mencakup 382 Data Batik yang berasal dari 25 perajin di Malang Raya, Tulungagung, Trenggalek, dan Lamongan.
Ada juga detail klasifikasi, mencakup nama motif, filosofi, teknik pembuatan, jenis kain, hingga dimensi. Museum 3D & Virtual Gallery, viisualisasi interaktif untuk pengalaman pengguna yang lebih nyata.
Aplikasi ini berkolaborasi dengan aplikasi ciptaan dosen Filkom yang memungkinkan pembuatan motif batik baru menggunakan kecerdasan buatan (AI). Selain website, tim pengembang yang diwakili oleh Muhammad Makarim dan Ivan Rafli Adipratama juga mendemonstrasikan aplikasi mobile Batikpedia.
“Aplikasi mobile ini memiliki fitur unggulan berupa rekognisi motif. Pengguna cukup memindai (scan) motif batik pada pakaian, dan aplikasi akan memberikan informasi terkait motif tersebut. Ini sangat membantu peneliti maupun masyarakat umum,” jelas Ivan Rafli.
Meskipun telah diluncurkan, Fitriana mengakui bahwa platform ini masih akan terus berkembang. Saat ini, aplikasi mobile baru tersedia untuk pengguna Android dan dapat diunduh melalui website resmi.
“Ke depan, kami berencana memperluas cakupan data ke wilayah Banyuwangi, Madura, dan Bojonegoro. Fitur tambahan seperti storymap, game edukasi interaktif, serta penyempurnaan pilihan bahasa (saat ini tersedia dalam Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang) akan terus kami kembangkan,” tutup Fitriana. (dan/but)






