Surabaya (beritajatim.com) – Polda Jawa Timur angkat bicara terkait dugaan perusakan kebun kopi milik PTPN I Regional V di Desa Kaligedang, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso, yang terjadi pada Senin (13/10/2025). Kasus ini menjadi perhatian publik setelah video para buruh perempuan menangis histeris di antara ribuan batang kopi yang rusak beredar luas di media sosial.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, membenarkan bahwa pelaporan kasus tersebut telah dilakukan oleh Polres Bondowoso. “Pelaporan di Polres Bondowoso ya, mbak. Silakan konfirmasi ke Kapolres ya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/10/2025).
Diketahui, kebun kopi yang terbakar dan dirusak itu merupakan bagian dari lahan PTPN I Regional V. Ribuan pohon kopi muda hasil tanam tahun 2023 ditemukan tumbang dan rusak berat. Pohon-pohon tersebut berusia sekitar tiga tahun dan masih berstatus Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), artinya belum sempat memasuki masa panen perdana yang biasanya terjadi di usia empat tahun.
Dalam video berdurasi dua menit 28 detik yang beredar, belasan buruh perempuan menangis tersedu di antara batang kopi yang patah. Sebagian duduk lemas di tanah, sementara yang lain mengusap wajah sambil memandangi lahan yang porak poranda.
“Der kening tolah, Pak (semoga pelaku tertimpa azab, Pak),” teriak seorang buruh perempuan sembari mengusap matanya dengan kaos yang dipasang di kepala.
Data sementara menyebutkan, sekitar 6.661 pohon kopi di lahan seluas 4,6 hektare dilaporkan dirusak oleh orang tak dikenal (OTK) pada Minggu (12/10/2025) malam atau Senin (13/10/2025) dini hari. Pihak PTPN I Regional V saat ini masih menghitung kerugian dan telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk proses penyelidikan.
Camat Ijen, Wisnu Hartono, yang juga turun ke lokasi, meminta seluruh pihak menahan diri agar situasi di wilayahnya tetap kondusif. “Benar, perusakan terjadi tadi malam. Pihak PTP masih melakukan penghitungan jumlah pohon yang rusak. Kami minta semua pihak menjaga kondusivitas,” ujarnya dikonfirmasi beritajatim.com.
Wisnu menilai, peristiwa ini tak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis terhadap para pekerja kebun yang sebagian besar adalah perempuan. “Kami mengimbau seluruh pihak untuk sama-sama menahan diri. Dari PTPN mohon jangan dulu menambah luasan tanam kopinya sebelum konflik dengan warga ada titik terang,” katanya.
Sementara itu, Kapolsek Ijen, Iptu Suherdi, menyebut pihaknya telah melakukan pengecekan bersama personel Brimob dan pegawai PTPN. Ia juga mengimbau agar manajemen PTPN segera melapor resmi ke Polres Bondowoso agar penyelidikan berjalan cepat dan tuntas.
Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki siapa pelaku dan apa motif di balik aksi pembakaran serta perusakan kebun kopi PTPN I Regional V tersebut. [uci/beq]






