Gresik (beritajatim.com)- Kabupaten Gresik masih menjadi tujuan strategis bagi para investor untuk menanamkan modal. Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) setempat, sepanjang tahun 2024 nilai investasi di daerah tersebut mencapai Rp37,9 triliun. Jumlah itu menurun dibanding tahun 2023 yang sempat menembus Rp49,1 triliun.
Dari total investasi tahun lalu, 63,13 persen berasal dari penanaman modal asing (PMA), sedangkan 30,87 persen sisanya dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Kepala DPMPTSP Gresik, AM Reza Pahlevi menjelaskan kontribusi terbesar investasi datang dari sektor pertambangan dengan realisasi Rp15,5 triliun, disusul industri mineral non logam Rp3,55 triliun, industri kimia dan farmasi Rp3,32 triliun, serta perumahan dan kawasan industri Rp2,23 triliun.
“Guna mendongkrak investor lebih banyak lagi masuk ke Gresik. Kami juga memberikan stimulus fiskal melalui Perbup nomor 80 Tahun 2023 tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).
Selain melalui regulasi, Reza menyebut pihaknya berupaya meyakinkan investor dengan layanan investasi yang berkualitas, transparan, serta responsif terhadap kebutuhan dunia usaha.
Ditanya soal target investasi tahun 2025, Reza mengatakan data resmi belum keluar. Namun pihaknya memproyeksikan angka realisasi bisa menembus Rp41 triliun.
“Saya optimis bisa terealisasi mengingat masih banyak proyek PMA maupun PMDN di KEK JIIPE yang terus dibangun,” paparnya.
Sebagai informasi, KEK JIIPE merupakan kawasan manufaktur dengan lahan sekitar 3.000 hektar. Sejumlah perusahaan besar sudah menanamkan modalnya di kawasan ini, antara lain PT Freeport Indonesia (PTFI), PT Hailiang Nova Material, PT Nippon Indosari Corpindo, dan PT Xinyi Glass Indonesia. KEK JIIPE juga dilengkapi pelabuhan laut dalam yang mampu disandari kapal bertonase besar, sehingga semakin menarik bagi investor global. [dny/ian]






