Pertandingan Dewa United melawan Persebaya dalam pekan ketujuh Super League 2025-26, di Stadion Internasional Banten, Kabupaten Serang, Banten, Jumat (26/9/2025) malam itu, berakhir remis 1-1.
Dewa United unggul lebih dulu pada menit 70 berkat sundulan Septian Bagaskara yang menerima operan Brian Fatari. Bruno Moreira menyamakan kedudukan pada menit 90+10 melalui titik putih.
Dewa lebih mendominasi penguasaan bola (69 persen berbanding 31 persen). Mereka juga menembakkan bola ke arah gawang Persebaya lebih banyak dibanding sebaliknya (11 berbanding enam tembakan).
Namun malam itu aplaus 2.021 penonton lebih layak diberikan kepada wasit Yudi Nurcahya dan perangkat ofisial Video Assistane Referee (VAR). Mereka mengeluarkan keputusan-keputusan yang tepat dalam momentum krusial.
Stefano Lililpaly sebenarnya berhasil mencetak gol indah pada menit 29. Namun ofisial VAR jeli melihat posisi Lilipaly yang berdiri offside.
Yudi Nurcahya dan ofisial VAR kembali menunjukkan kejelian saat memberikan kartu merah untuk pemain Persebaya Dejan Tumbas. Semula pemain asal Serbia tersebut hanya mendapatkan kartu kuning karena menabrak Taisei Marukawa.
Yudi langsung membatalkan kartu kuning dan memberikan kartu merah langsung kepada Tumbas pada menit 38, setelah kamera VAR di tepi lapangan menunjukkan sikutan Tumbas kepada Marukawa.
Unggul jumlah pemain, Dewa United mendominasi permainan. Namun pada babak kedua, dengan diperkuat sepuluh pemain saja, Persebaya justru bermain lebih ofensif.
Ernando Ari memang sempat memungut bola dari gawangnya saat pertandingan tersisa 20 menit waktu normal. Namun para pemain Persebaya menunjukkan semangat juang luar biasa. Catur Pamungkas menunjukkan bahwa apapun bisa terjadi selama peluit panjang belum terdengar.
Dengan gagah berani, Catur bermanuver menerobos kotak penalti Dewa United yang membuat kiper Sonny Stevens terpaksa melanggarnya. Sisanya, Moreira masih bisa diandalkan untuk menjebol gawang melalui titik 12 pas.
Keputusan ofisial pertandingan menambah waktu hingga tujuh menit sangat krusial terhadap gol balasan Persebaya. Kecermatan ofisial memperhitungkan waktu yang terbuang selama masa normal pertandingan memberikan tambahan waktu cukup panjang bagi Catur untuk melakukan manuver beberapa detik jelang Yudi meniup peluit panjang.
Terlepas dari hasil imbang, pertandingan malam itu menunjukkan bahwa sebenarnya kualitas wasit dan perangkat pertandingan (terutama VAR) lokal tidak selamanya buruk. Kompetisi di Indonesia membutuhkan wasit dan perangkat pertandingan yang tidak saja cermat dan penuh pertimbangan, tapi juga tegas dan cepat.
Saat ini pemain dan ofisial klub Super League sudah bisa menunjukkan rasa hormat kepada wasit, sekontroversi apapun keputusan mereka. Jika wasit dan perangkat pertandingan lokal bisa diharapkan bertindak benar dan mengeluarkan keputusan yang repat, kita yakin hanya soal waktu saja untuk mendongkrak kualitas kompetisi sepak bola di Indonesia. [wir]






