Jember (beritajatim.com) – Guru di Sekolah Dasar Negeri Bintoro 5 di Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memprotes kualitas sebagian sajian makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa, Jumat (26/9/2025).
Menu yang diterima siswa hari ini adalah mi spaghetii, salad sayur, edamame, anggur muskat, dan ayam bolognesse. Nur Fadli, guru SDN Bintoro 5, mengatakan, sebagian makanan yang diterima basi.
“Katanya MBG Makan Bergizi Gratis. Tapi barang basi kalau dimakan anak-anak kami, siapa yang bertanggung jawab,” katanya.
Akhirnya, hanya sebagian makanan yang tidak basi saja yang dimakan siswa. “Kalau tidak dimakan, mubazir,” kata Nur Fadli.
SDN Bintoro 5 sudah menerima kiriman MBG untuk kurang lebih 50 siswa sejak sekitar empat bulan lalu. Makanan diterima jam 08.30 WIB oleh pihak sekolah. Para guru lelaki harus menempuh jarak dua kilometer untuk mengambil makanan tersebut di perumahan Gludug, karena susahnya akses jalan ke sekolah itu.
Nur Fadli sebenarnya sudah memprotes pendamping dan ahli gizi MBG, apalagi hal ini terjadi beberapa kali. Namun, menurutnya, tidak ada jawaban memuaskan. “Padahal kalau ada apa-apa kan yang dipanggil guru dan kepala sekolah,” katanya.
Nur Fadli meminta agar hal ini tidak terjadi lagi. “Perbaikilah. Jangan dibuat main-main, ini program negara,” katanya.
Sementara itu, Achmad Sudiyono, pengelola dapur MBG di Patrang, meminta masalah ini tidak dibesar-besarkan. “Tidak ada yang basi. Itu spaghetti, masakan cuka. Jadi bukan basi. Kami selalu memberikan menu-menu kekinian. Kalau dimakan ya enak, kayak bacem. Ahli gizi dan kepala dapur yang tahu,” katanya.
Nadia Nur Azizah, ahli gizi dapur MBG di Patrang, mengatakan, komplain juga datang dari SDN Bintoro 3. “Tapi itu bukan basi. Saya sudah datang ke sana, saya buktikan, bahwa salad sayurnya tidak basi,” katanya.
“Salad sayur prosesnya berbeda dengan tumisan sayur. Salad sayur itu prosesnya direndam selama 18 jam di air, dicuka, digaram, digula. dan dikaldu jamur. Itu bukan basi, tapi karena bau dari kubisnya. Kubisnya kan tidak ditumis,” kata Nadia.
“Bau salad sayur memang seperti itu. Kalau dicium saja, memang sepertinya basi. Tapi ketika dimakan, tidak basi,” kata Nadia.
Begitu ada komplain, Nadia bersama Kepala Dapur Eka langsung datang ke sekolah. “Gurunya tidak merasakan salad sayurnya, tapi mencium saja. Sedangkan saya dan Mbak Eka merasakan sisa bekas makanan anak-anak itu tidak masalah. Tidak bau, tidak basi,” katanya.
Mengantisipasi terjadinya protes serupa, Nadia akan mengedukasi guru dan siswa di SDN Bintoro 3, SDN Bintoro 5, dan SMP Negeri 15. “Saya akan mengurangi menu-menu seperti itu. Sayurnya saya bikin tumisan saja. Mungkin anak-anak tidak tahu dengan menu ini, tidak pernah makan, jadi anak-anak merasa tidak enak atau basi,” katanya. [wir]






