Jember (beritajatim.com) – Rektorat Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memerintahkan kepada pejabat kampus itu untuk tak mengendarai mobil dinas saat ini.
“Ini bentuk sense of social (crises). Mobil dinas kita tidak pakai. Malah para pejabat menggunakan mobil tahun 2006, 2007,” kata Rektor UIN KHAS Jember Hepni, saat menyambut sejumlah tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di kampusnya, Selasa (2/9/2025).
Menurut Hepni, saat ini kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah mengalami penurunan yang diikuti kesulitan ekonomi. “Ini harus diimbangi dengan sikap para pejabat pemerintah yang punya sense besar terhadap mereka. Sebab ketika kita lapar, kemudian kok ada penampilan yang sangat kontras, susah untuk menahan diri,” katanya.
Sebelumnya, menurut Hepni, Menteri Agama menginstruksikan kepada seluruh pegawai Kementerian Agama untuk tetap bersikap sederhana. “Tidak boleh berlebihan, bermewah-mewahan dan lain sebagainya,” katanya.
“Semua pihak harus bisa menahan diri. Satu menahan diri dari keserakahan, karena keserakahan ini yang kemudian menyebabkan korupsi, menyebabkan macam-macam. Menahan diri dari kezaliman, kemudian ketidakadilan, dan juga menahan diri dari kemarahan, dari reaksi yang berlebihan dan lain sebagainya,” kata Hepni.
Hepni mengatakan, Kementerian Agama meminta seluruh pegawai dan birokrat yang berada di bawah naungan mereka untuk melakukan hal-hal yang bersifat spiritual. “Kita diminta untuk mengetuk langit, karena upaya-upaya ikhtiariyah akal, semua (umat pemeluk) agama hari ini harus berkontribusi untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian,” katanya.
Namun doa dan peran serta umat beragama saja, menurut Hepni, tidak cukup. “Kedamaian dan kerukunan semuanya bisa dilakukan dengan cara islah, dengan cara rekonsiliasi, kalau semuanya bisa duduk berdampingan mendialogkan apa masalahnya dan bagaimana jalan keluarnya, seperti pengangguran, marjinalisasi, dan lain sebagainya. Kita duduk bersama untuk melakukan porsi-porsi yang baik,” katanya.
Menurut Hepni, pada dasarnya, manusia tidak menyukai perseteruan. “Manusia itu fitrahnya adalah damai. Menciptakan kerukunan, rasa aman bagi semuanya, adalah cita-cita kita bersama dan itu fitrah kemanusiaan,” katanya.
Sementara itu, Ketua FKUB Jember Abdul Muis Sonhaji mengatakan, seluruh perwakilan tokoh lintas agama berdoa agar setiap problem yang dihadapi bangsa Indonesia bisa segera teratasii.
“Tentu negara ini tidak akan bisa membangun dengan baik, tidak akan bisa menyejahterakan masyarakatnya. kalau masyarakat kita tidak aman tidak damai,” kata Muis.
Muis berharap persoalan yang terjadi segera bisa diselesaikan pemerintah. “Kalau ini tidak segera diselesaikan, tidak menutup kemungkinan akan ada peristiwa-peristiwa yang lebih tidak diinginkan lagi,” katanya. [wir]






