Malang (beritajatim.com) – Ukuran kiosnya tak besar. Penuh dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Mulai dari makanan, rokok, sampai keperluan pribadi kaum hawa. Bahkan hingga bagian teras, terasa begitu sesak dengan onggokan galon, tabung gas melon (Elpiji 3 Kilogram), maupun rak berisi makanan ringan . Tak ada istilah ‘tutup’ dalam kamus operasional toko yang kerap dikenal dengan Warung Madura.
Ya, warung Madura muncul sebagai fenomena baru di sektor ekonomi riil. Menjelma sebagai penantang bagi retail modern yang kerap menawarkan kenyamanan namun harga barang sedikit melangit. Tak hanya di kota besar, fenomena Warung Madura pun telah masuk kota-kota kecil.
Pun di Malang, fenomena ini cukup mudah dijumpai. Sejumlah warung Madura beroperasi di titik-titik Kota Apel. Tak hanya di tepi jalan raya. Bahkan hingga masuk ke perkampungan. Tak jarang juga, berdekatan dengan retail modern.
Di tengah kondisi ekonomi yang cukup sulit, warung Madura justru semakin menjamur. Bahkan hampir sulit ditemukan warung Madura yang sampai gulung tikar. Lantas, apa yang menjadi rahasia dari fenomena tersebut?
Empat mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya (UB) pun tertarik melakukan riset terhadap merebaknya warung Madura di Kota Malang. Sejumlah temuan yang mereka dapat dituangkan dalam artikel hasil penelitian berjudul Dialektika Komunitas Terbayang dalam Interaksi Ekonomi Warung Madura di Malang. Riset tersebut pu menyajikan sebuah potret yang jauh lebih kompleks dan memukau daripada yang terlihat di permukaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Rafi Azzamy, Desvandy Saputra Haryana, Haikal Rian Utama, Muhammad Rif’at Alamsyah, dan Rayhan Haoloan Zanetti ini menemukan bahwa kunci kekuatan warung Madura.
Menurut mereka, warung Madura tidak hanya terletak pada tumpukan barang dagangan atau jam operasionalnya yang non-stop, tetapi kekuatan sesungguhnya tersembunyi dalam jalinan tak terlihat. Mereka membangun jaringan solidaritas, identitas budaya, dan modal sosial yang begitu kuat, yang mereka analisis sebagai sebuah komunitas terbayang.
Semuanya berawal dari mata kuliah Etnografi Jawa Timur, Mohammad Rafi Azzamy, yang menjadi salah satu juru bicara tim, menjelaskan bagaimana riset ini lahir dari sebuah keresahan bersama. Fenomena migrasi dan menjamurnya warung Madura di sekitar mereka menjadi sebuah teka-teki yang menarik untuk dipecahkan.
“Kami melihatnya setiap hari, warung ini menjadi bagian dari ekosistem kota. Kami ingin menginvestigasi rupa budaya Jawa Timur, dan migrasi serta diaspora orang Madura melalui warung ini adalah salah satu bentuk yang paling menonjol,” ungkap Rafi khusus kepada beritajatim.com, awal pekan lalu.
Salah satu temuan awal mereka yang sempat menarik perhatian publik di jagat media sosial X adalah alasan pragmatis di balik operasional 24 jam. Bukan semata-mata karena mengejar omzet, pemilik warung mengaku malas untuk memindahkan barang berat seperti kulkas, tumpukan tabung gas, dan galon air setiap hari. Keputusan untuk tetap buka adalah sebuah efisiensi kerja yang lahir dari keengganan untuk repot.
Rafi dan tim menemukan sebuah struktur sosial yang jauh lebih fundamental dan signifikan. Mereka menerapkan sebuah konsep teoretis yang kuat untuk membongkar fondasi komunitas
Teori inti yang digunakan para peneliti adalah Imagined Communities (Komunitas Terbayang), konsep yang dipopulerkan oleh sejarawan dan ilmuwan politik Benedict Anderson. Secara klasik, Anderson menggunakan teori ini untuk menjelaskan bagaimana nasionalisme muncul.
Ia berpendapat bahwa sebuah bangsa adalah komunitas yang terbayang karena para anggotanya, meskipun tidak akan pernah saling mengenal secara langsung, memiliki gambaran mental yang sama tentang persekutuan dan persaudaraan mereka, yang difasilitasi oleh media cetak dan bahasa yang sama.
Tim peneliti UB dengan cerdas mengadaptasi teori makro ini ke dalam skala mikro komunitas diaspora Madura. “Kami bereksperimen dengan teori Anderson. Jika Anderson menggunakannya untuk menganalisis identitas bangsa, kami melihatnya dalam konteks identitas primordial yang menciptakan kelompok terbayang di antara orang-orang Madura di Kota Malang,” jelas Rafi.
Rafi dan tim mengaku, memang tidak ada “Paguyuban Resmi Warung Madura Se-Malang” yang terdaftar dengan ketua dan AD/ART. Namun, komunitas itu ada dan berfungsi dengan sangat efektif. Ikatan ini ditenun dari benang-benang primordial: kesamaan bahasa, daerah asal (tanah kelahiran), nilai-nilai budaya, agama, dan yang terpenting, nasib sebagai sesama perantau.
Pernyataan seorang informan bernama Bang Jali menggambarkan realitas ini dengan sempurna, “Belum [ada paguyuban], aku. Tapi kalau memang ada ketuanya ya ikut.” Ini menunjukkan kesadaran akan potensi sebuah komunitas formal, namun menegaskan bahwa tanpa itu pun, ikatan informal sudah berjalan dengan sendirinya.
Dua Pilar Solidaritas: Jaringan Sumenep dan Pamekasan
Penelitian Rafi menggali lebih dalam dan menemukan bahwa “komunitas Madura” bukanlah sebuah entitas monolitik. Di dalamnya terdapat nuansa dan pola jaringan yang berbeda, terutama berdasarkan daerah asal. Dua daerah yang menjadi pilar utama diaspora di Malang adalah Sumenep dan Pamekasan.
Model Jaringan Sumenep adalah kelompok perantau dari Sumenep menunjukkan pola jaringan yang cenderung bersifat patron-klien atau berantai. Sistemnya sering kali berjalan seperti ini: seorang perantau yang lebih dulu sukses akan membuka warung, kemudian ia akan menarik atau mempekerjakan kenalan, kerabat, atau tetangga dari kampung halamannya di Sumenep.
Penjaga warung dalam model ini sering kali bukan pemilik, melainkan pekerja yang dipercaya. Pola ini berfungsi sebagai mekanisme rantai migrasi yang efektif. Bagi pendatang baru, ini adalah jaring pengaman sosial yang krusial; mereka mendapatkan pekerjaan, tempat tinggal sementara, dan bimbingan untuk beradaptasi di kota baru dari patron mereka. Ini adalah sistem yang dibangun di atas fondasi kepercayaan dan utang budi.
Selanjutnya, ada Model Jaringan Pamekasan, Berbeda dengan Sumenep, perantau dari Pamekasan cenderung memiliki model kepemilikan pribadi. Warung yang mereka kelola adalah milik mereka sendiri. Namun, kepemilikan individu ini sama sekali tidak berarti isolasi.
Jaringan mereka bersifat lebih horizontal. Terhubung erat satu sama lain melalui komunikasi intens, berbagi informasi tentang pemasok barang, strategi harga, hingga saling menjaga keamanan. Ikatan mereka diperkuat melalui kegiatan sosial dan keagamaan yang diadakan bersama, seperti arisan atau selawatan (pembacaan selawat). Jaringan Pamekasan adalah contoh nyata dari solidaritas antar-pelaku usaha mandiri yang saling mendukung untuk kemajuan bersama.
Perbedaan pola ini menunjukkan betapa kompleksnya struktur sosial di balik layar. Solidaritas mereka bukan sekadar slogan, melainkan sebuah mekanisme fungsional dengan strategi dan pola yang teruji oleh waktu.
Jika komunitas adalah jaringannya, maka warung adalah simpulnya. Penelitian ini secara cermat mendokumentasikan bagaimana warung berfungsi sebagai ruang ketiga atau sebuah enklave budaya tempat di mana identitas Madura tidak hanya dijaga, tetapi juga direproduksi secara aktif di tengah dominasi budaya lain.
“Untuk memahami sepenuhnya fenomena ini, kita perlu menengok ke belakang. Tradisi merantau orang Madura memiliki akar sejarah yang panjang. Riset ini menyentuh bagaimana kekalahan kerajaan Madura dari Belanda memicu migrasi ke wilayah pesisir. Mereka menyeberang ke daratan Jawa, terutama ke wilayah yang kini dikenal sebagai Tapal Kuda (Probolinggo, Bondowoso, dll.), melahirkan akulturasi budaya Pendalungan,” jelas Rafi.
Gelombang migrasi berikutnya didorong oleh faktor ekonomi. Pembangunan pabrik-pabrik gula oleh pemerintah kolonial di Malang (Krebet, Kebonagung) dan Surabaya menjadi magnet yang menarik tenaga kerja dari Madura. Tradisi mobilitas ini terus berlanjut hingga hari ini, meskipun pendorongnya telah berubah.
“Kalau di Madura itu, nyari pekerjaan itu susah. Untuk gaji itu paling mentok 2 juta,” tutur Eva, salah satu informan, merangkum realitas ekonomi yang mendorong mereka keluar dari tanah kelahiran.
Dalam konteks modern, warung kelontong telah menjadi mesin ekonomi andalan. Ia adalah wujud evolusi dari semangat bertahan hidup dan mencari penghidupan yang lebih baik, sebuah keahlian berdagang yang telah terasah dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Penelitian Mohammad Rafi Azzamy dan timnya ini memberikan kita sebuah pelajaran berharga. Di balik fasad ekonomi sebuah warung kelontong, tersimpan sebuah ekosistem sosial yang kompleks sekaligus juga tangguh. [dan/beq]






