Malang (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma) kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan tingkat kelulusan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) mencapai 94 persen, menempatkannya dalam jajaran 10 besar nasional. Keberhasilan ini dirayakan bersamaan dengan prosesi Baiat Dokter Muslim Periode XLII (42) yang mengukuhkan 34 dokter baru di Gedung Bundar Al Asy’ari, Unisma, pada Sabtu (19/7/2025).
Acara yang berlangsung khidmat ini tidak hanya menjadi penanda lahirnya para profesional medis baru, tetapi juga penegasan atas komitmen Unisma dalam mencetak dokter yang tidak hanya unggul secara intelektual dan profesional. Unisma telah melahirkan dokter muslim yang kokoh dalam karakter religiusitas dan kebangsaan.
Dekan FK Unisma, dr. Rahma Triliana, M.Kes., Ph.D., mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian para lulusan. “Alhamdulillah, ini adalah baiat ke-42 FK Unisma dengan 34 peserta. Tingkat kelulusan kami mencapai 94 persen. Meskipun sedikit di bawah periode sebelumnya yang mencapai 100 persen, angka ini tetap menempatkan kami dalam 10 besar nasional dari seluruh fakultas kedokteran di Indonesia,” ujarnya.
Dari total 36 peserta ujian, dua di antaranya belum berhasil lulus. Namun, dr. Rahma tetap bangga karena proses pendidikan yang ditempuh para mahasiswa, yang beberapa di antaranya penuh liku-liku, dapat diselesaikan dengan baik.
Baiat periode ini menjadi semakin istimewa dengan adanya dua kisah inspiratif. Pertama, predikat lulusan terbaik diraih oleh Yusuf Abdullah, mahasiswa angkatan 2018. Ia tidak hanya menjadi lulusan terbaik secara keseluruhan, tetapi juga mencatatkan nilai UKMPPD tertinggi sebesar 88,66 sekaligus nilai OSCE (ujian praktik) terbaik.
Kisah kedua datang dari Marifatul Asia, seorang dokter baru yang merupakan bagian dari program beasiswa Pemerintah Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kelulusan Marifatul menandai puncak dari kerja sama yang telah terjalin antara FK Unisma dengan Pemkab Kayong Utara sejak tahun 2015.
“Hari ini kami juga meluluskan mahasiswa kesembilan dari program beasiswa Kayong Utara, yang turut dihadiri oleh Wakil Bupati Kayong Utara. Ini adalah peserta terakhir dari total sembilan mahasiswa yang diamanahkan kepada kami sejak 2015,” jelas dr. Rahma.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Islam Malang, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., menekankan bahwa para dokter lulusan Unisma telah dibekali dengan tiga karakter dasar yang menjadi pilar utama pendidikan di kampus tersebut.
Pertama, karakter religiosita, para mahasiswa kedokteran diwajibkan mengikuti program Pondok Pesantren Ar-Razi selama satu tahun penuh di awal masa studi. “Ini bertujuan untuk menanamkan dan menguatkan pemahaman akidah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Sehingga, dokter yang kita baiat hari ini adalah alumni pondok pesantren,” tegas Prof. Junaidi.

Kedua, karakter intelektual profesional, lulusan didorong untuk mumpuni dalam penguasaan pengetahuan dan implementasi keterampilan kedokteran, serta berkomitmen untuk terus belajar sepanjang hayat.
Ketiga, karakter kebangsaan, Rektor menegaskan tidak ada keraguan terhadap loyalitas dan kecintaan alumni Unisma pada tanah air. “Tadi kita bersama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Subbanul Wathon, yang intinya menekankan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Niatilah profesi dokter ini sebagai ibadah kepada Allah SWT, sekaligus pengabdian untuk bangsa dan negara,” pesannya kepada para dokter baru.
Dengan kelulusan angkatan ini, total alumni FK Unisma kini mencapai 859 dokter yang telah tersebar dan mengabdi di seluruh penjuru Indonesia, dari Aceh hingga Papua.
Dekan FK Unisma berharap para lulusan dapat memegang teguh karakter almamater, yaitu totalitas dalam bekerja dan integritas dalam menjalankan profesi.
“Saya berharap mereka bisa kembali untuk membangun daerahnya masing-masing, meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia, serta senantiasa menjaga kode etik dan marwah luhur jabatan kedokteran,” tutup Rektor Unisma. (dan/ian)






