Malang (beritajatim.com) – Keberhasilan Jawa Timur menekan angka stunting secara signifikan menjadi sorotan utama dalam Rapat Koordinasi Daerah (RAKORDA) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2025. Di tengah optimisme tersebut, muncul tantangan baru seperti tren childfree yang mulai menjadi perhatian serius.
Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur menggelar RAKORDA di Malang, Kamis (17/7/2025), dengan tema besar ‘Quick Win untuk Indonesia Emas 2045’. Acara ini menjadi forum strategis bagi 38 kabupaten/kota untuk menyatukan visi dan langkah dalam mempersiapkan generasi unggul menyongsong bonus demografi.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin, yang turut hadir sebagai pembicara kunci, membeberkan rahasia di balik turunnya angka stunting di Jatim hingga mencapai 14,7%. Menurutnya, capaian ini bukanlah hasil kerja perorangan, melainkan buah dari gotong royong semua pihak.
“Ini adalah capaian kita semua. Ketika saya bergabung, angka stunting masih di 23 persen. Sekarang kita berhasil tekan hingga 14,7%. Ini bukan kerja individu, melainkan gerak bersama semua elemen, mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat di tingkat paling bawah, termasuk BKKBN,” tegas Arumi Bachsin.
Ia menambahkan, kunci keberhasilan Jatim terletak pada pendekatan mikro yang personal dan menghargai kearifan lokal. “Kita percaya dengan orang-orang di lapangan. Mereka yang paling tahu tantangan mikro di desanya masing-masing. Pendekatan yang personal dan berbasis budaya lokal inilah yang menjadi kunci,” pungkasnya.
Menghadapi tantangan ke depan, Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Dra. Maria Ernawati, M.M., memaparkan lima program Quick Win yang dirancang untuk mempercepat pencapaian target menuju Indonesia Emas 2045. Kelima program ini akan disesuaikan dengan kondisi unik di setiap daerah.
Program-program tersebut mencakup GENTING atau Gerakan Orang Tua Cegah Stunting, GATI atau Gerakan Ayah Teladan Indonesia untuk meningkatkan peran ayah, serta TAMASYA atau Taman Asuh Sayang Anak untuk pengasuhan berkualitas. Selain itu, diluncurkan pula program SIDAYA atau Lansia Berdaya untuk mendukung produktivitas lansia, dan pemanfaatan teknologi melalui Aplikasi SUPER APPS Tentang Keluarga.
Di sisi lain, Maria Ernawati juga menanggapi fenomena childfree (pilihan untuk tidak memiliki anak) yang kini ramai diperbincangkan. Meskipun angkanya di Indonesia masih tergolong kecil, yakni sekitar 1,3%, BKKBN memandang perlu adanya langkah antisipasi.
“Ini adalah isu yang perlu kita sikapi dengan bijak. Kami akan menggencarkan edukasi dan sosialisasi secara masif melalui media, komunitas, dan gerakan generasi muda agar mereka memahami pentingnya perencanaan keluarga untuk pembangunan SDM,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, BKKBN Jatim juga memberikan penghargaan kepada para pejuang program di lapangan. Dalam kategori Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso dinobatkan sebagai pengelola terbaik. Prestasi ini diikuti oleh SD Negeri Tamansari 1 Bondowoso untuk jenjang SD, MTsN 3 Malang untuk jenjang SMP, dan SMAN 19 Surabaya untuk jenjang SMA.
Sementara itu, penghargaan Kampung Keluarga Berkualitas terbaik diraih oleh Kabupaten Magetan untuk kategori kabupaten dan Kota Madiun untuk kategori kota. Di bidang pendataan, Kota Madiun kembali unggul melalui Kelurahan Rejomulyo untuk Rumah DataKu kategori digital, sementara Desa Depok dari Kabupaten Trenggalek memenangkan kategori konvensional.
Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Jatim, perwakilan Bappeda Jatim, serta mitra strategis lainnya. Kehadiran mereka menandakan komitmen bersama untuk menata fondasi generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. [dan/aje]






