Kediri (beritajatim.com) – Sebanyak 437 warga Kota Kediri berhasil menyelesaikan pendidikan kesetaraan melalui program kejar paket A, B, dan C. Penyerahan ijazah dilaksanakan secara simbolis kepada 20 lulusan dari total 50 yang hadir, sebuah momentum yang sarat makna dan harapan baru bagi para penerimanya.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar prosesi penyerahan dokumen kelulusan, melainkan penyerahan kembali masa depan dan harapan para lulusan. “Kegiatan ini bukan hanya penyerahan ijazah, melainkan penyerahan kembali harapan dan masa depan bapak ibu semua, karena pendidikan ini hak setiap orang,” ungkap Vinanda usai menyerahkan, pada Senin (7/7/2025).
Dari total lulusan, lebih dari separuhnya berusia di atas 24 tahun, yang menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak usia sekolah, tetapi juga mereka yang akses pendidikannya terputus di masa lalu. Kondisi tersebut menjadi cermin bahwa pendidikan bisa dikejar kapan pun, asalkan masih ada kemauan dan tekad untuk belajar.
Vinanda juga menyoroti berbagai penyebab anak-anak putus sekolah di masa lalu. “Ada yang mendampingi ibunya, ada juga yang dulu sekolah tidak gratis dan tidak punya biaya untuk melanjutkan,” katanya.
Sebagai bagian dari visi menjadikan Kediri sebagai Kota Mapan (Maju, Agamis, Produktif, Aman dan Ngangeni), Vinanda menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama. Ia menegaskan pentingnya menekan angka putus sekolah hingga nol. Namun, ia menyadari bahwa perjuangan ini tidak bisa diemban sendiri oleh pemerintah.
“Penyelesaian anak putus sekolah ini, bukan hanya ada di tangan Pemkot Kediri, karena kita susah tanpa ada peran masyarakat,” ajaknya.
Wali kota juga memberikan apresiasi khusus kepada salah satu lulusan yang sudah lanjut usia. Ia mengaku salut atas motivasi belajar yang ditunjukkan dan berharap semangat ini bisa menjadi inspirasi bagi warga lainnya.
“Sebagai bagian dari misi Kota Kediri menjadi kota yang maju, kami komitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan,” ujar Vinanda.
Lebih jauh, lulusan S2 Kenotariatan Unair Surabaya ini menambahkan bahwa peningkatan produktivitas sumber daya manusia merupakan langkah penting dalam mewujudkan Kediri sebagai kota produktif.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Kediri tengah mendorong pembentukan tim penanganan anak tidak sekolah yang melibatkan berbagai unsur lintas sektor. Tim ini akan diisi oleh Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dispendukcapil, Bappeda, DP3APKB, Kominfo, para camat, forum PKBN, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Anang Kurniawan, menyebutkan bahwa dari 437 lulusan tersebut, sebanyak 225 orang berusia di atas 24 tahun, sementara sisanya 212 orang berusia di bawah 24 tahun.
Hingga kini, angka tidak sekolah di Kota Kediri mencapai 1.548 orang, sebanyak 977 orang tengah menempuh pendidikan kejar paket dan 500 lainnya sudah tidak memiliki motivasi untuk kembali ke sekolah. Jumlah tersebut terkumpul berdasarkan pendataan Dinas Pendidikan sejak 2023 dengan indikator usia produktif 20–50 tahun.
Anang menegaskan bahwa, bila merujuk pada fokus pendidikan nasional yang menyasar kelompok usia hingga 19 tahun, maka Kota Kediri sudah bebas dari angka anak tidak sekolah. “Karena berdasarkan data, anak-anak yang tidak sekolah di Kota Kediri di atas usia 24 tahun,” tutupnya. [nm/kun]






