Gresik (beritajatim.com) – Komitmen Petrokimia Gresik (PG) dalam mendukung keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat sekitar kembali berbuah manis. Berkat berbagai program tanggung jawab sosial, perusahaan pupuk nasional ini diganjar predikat gold dalam ajang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta CSR Award yang digelar Kementerian BUMN.
Predikat gold tersebut menjadi bukti nyata kepedulian PG kepada warga ring satu, khususnya delapan desa yang menjadi fokus utama program Kampung Sehat. Melalui program ini, masyarakat sekitar perusahaan mendapatkan layanan kesehatan komprehensif, mulai dari upaya pencegahan stunting, medical check up rutin, hingga pemeriksaan dokter langsung ke warga.
Senior Vice President (SVP) Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, mengatakan keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan seluruh pihak, termasuk masyarakat ring satu.
“Capaian semua ini tidak terlepas dukungan semua pihak termasuk masyarakat ring satu perusahaan,” ujar Adityo Wibowo, Rabu (2/7/2025).
Selain program Kampung Sehat, PG juga mendorong pengelolaan lingkungan lewat 17 bank sampah binaan. Program ini turut dilengkapi dengan kegiatan budidaya sayuran sistem hidroponik, budidaya ikan, serta produksi eco-enzyme. Hal ini tidak hanya meningkatkan kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar.
Tak kalah penting, Petrokimia Gresik turut mendampingi UMKM lokal melalui pengembangan UMKM Batik Bangsawan. Program pendampingan komprehensif tersebut mencakup permodalan hingga fasilitasi pameran, sehingga produk batik Gresik mampu menembus pasar nasional.
“TJSL perusahaan terus dilakukan sebagai komitmen perusahaan tidak hanya berorientasi pada bisnis semata. Tapi juga memberikan solusi dan dampak baik pada perusahaan. Tanpa dukungan masyarakat, perusahaan tidak akan bisa maju dengan optimal,” tambah Adit.
Siti Fitriyah, salah satu pembina Bank Sampah Gresik yang mendapat binaan PG, menuturkan rasa terima kasihnya atas pendampingan yang diberikan. Menurutnya, sampah yang dulu sering dianggap menjijikkan kini justru berubah menjadi barang ekonomis yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga.
“Dari bank sampah ini saya kerap kali diundang ke berbagai kegiatan baik skala daerah maupun nasional bagaimana mengelola sampah dengan baik serta menghasilkan secara ekonomi,” ucap Siti. [dny/beq]






