Malang (beritajatim.com) – Tingkat keterlibatan kerja (work engagement) karyawan Indonesia masih memprihatinkan. Sebuah riset terbaru dari mahasiswi Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), Apriliya Wahyu Putri, mengungkap hanya 25% pekerja merasa benar terlibat dalam pekerjaannya, sedangkan 52% lainnya memiliki keinginan kuat untuk mengundurkan diri.
Penelitian ini menyodorkan mindfulness sebagai jembatan penting untuk meningkatkan dedikasi kerja karyawan. Bersama dosen pembimbingnya, Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A., Apriliya mempresentasikan temuannya dalam sidang skripsi pada beberapa waktu lalu.
Penelitian dilakukan pada Januari hingga Mei 2025 dengan melibatkan 402 karyawan lintas sektor di wilayah Jabodetabek. “Data ini menunjukkan adanya celah besar dalam pengelolaan sumber daya manusia yang dapat berdampak serius pada produktivitas dan loyalitas organisasi,” jelas Apriliya kepada beritajatim.com, Senin (23/6/2025).
Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional dan metode path analysis, riset ini menemukan bahwa mindfulness berperan sebagai mediator parsial antara otonomi kerja dan keterlibatan kerja.
Analogi yang digunakan Apriliya sangat menarik: “Otonomi kerja adalah ‘rumah’, keterlibatan kerja adalah ‘kantor’, dan mindfulness adalah ‘stasiun transit’. Kehadiran mindfulness menawarkan rute yang lebih efisien dan bermakna,” ungkapnya.
Mindfulness dalam konteks ini diartikan sebagai kesadaran penuh terhadap apa yang sedang terjadi saat ini. Bukan hanya sekadar praktik spiritual, tetapi terbukti dapat diintegrasikan dalam dinamika kerja untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dan produktivitas.
Meski temuan utama telah disederhanakan menjadi empat poin utama, total hasil analisis data mencapai lebih dari 42 item. Salah satu temuan bahkan telah dipresentasikan dalam Konferensi Psikologi Internasional dan akan terbit di jurnal ilmiah KnE Social Sciences.
Menariknya, riset ini juga menunjukkan bahwa jabatan tidak secara signifikan memengaruhi tingkat mindfulness. “Level manajerial cenderung memiliki skor mindfulness yang lebih tinggi dibanding staf, tetapi perbedaannya tidak terlalu mencolok secara statistik,” jelasnya.
Alasan Apriliya memilih topik ini tidak lepas dari kenyataan bahwa Indonesia masih tergolong negara dengan perlindungan hak buruh rendah. Dengan tingkat keterlibatan kerja hanya 25% dan keinginan resign mencapai 52%, ia terdorong untuk mencari solusi ilmiah yang aplikatif.
“Job crafting dan mindfulness bisa menjadi strategi pengelolaan SDM yang manusiawi dan efektif, jika diterapkan sesuai konteks organisasi,” ucapnya. Job crafting sendiri dipahami sebagai inisiatif pekerja untuk mengubah ruang lingkup atau pendekatan terhadap pekerjaannya agar lebih bermakna.
Meski praktik integrasi antara job crafting dan mindfulness belum banyak diterapkan di Indonesia, Google menjadi salah satu contoh sukses di dunia. “Google sudah menerapkan praktik mindfulness sejak 2007. Hasilnya, stres karyawan menurun 30% dan kesejahteraan psikologis meningkat 15%,” kata Apriliya.
Ia menambahkan, bentuk pelatihan mindfulness di kantor sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengurangi multitasking. “Mindfulness itu tentang ‘hadir penuh’. Misalnya, saat makan siang, ya makan saja tanpa disambi menonton video atau melakukan hal lain,” jelasnya.
Ketertarikan Apriliya terhadap mindfulness tumbuh sejak 2018. Ia bahkan pernah mengambil mata kuliah Psikologi Mindfulness di Universitas Brawijaya dan berbagi kelas dengan calon bhikku. “Mindfulness memang berasal dari tradisi Buddhis, tapi kini sudah diadaptasi menjadi pendekatan klinis yang valid untuk menangani isu kesehatan mental,” tuturnya.
Dalam menulis skripsi, ia mengaku mendapatkan dukungan penuh dari dosen pembimbingnya. “Pak Iman memberikan saya otonomi untuk meneliti topik ini. Saya tidak pernah merasa stres karena engagement saya tumbuh secara alami dalam prosesnya,” kata Apriliya.
Penelitian ini sejalan dengan SDGs poin 8, yakni mempromosikan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Apriliya berharap risetnya dapat memberi kontribusi nyata dalam membentuk praktik manajemen SDM yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
“Mindfulness bukan hanya tren, tapi bisa menjadi kunci mengatasi burnout, meningkatkan keterlibatan, dan membangun ekosistem kerja yang sehat,” pungkasnya. (dan/kun)






