Doha (beritajatim.com) – Di jantung sirkuit internasional Lusail, Doha, Qatar, sebuah keajaiban teknologi ramah lingkungan telah tercipta. Kumbolo EVO-3, kendaraan prototipe hasil karya mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), berhasil meraih juara pertama dalam kategori Internal Combustion Engine (ICE) di ajang Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East (SEM APME) 2025.
Kemenangan ini bukan sekadar piala atau pengakuan, melainkan bukti nyata bahwa inovasi anak bangsa mampu bersaing di panggung internasional. Dengan efisiensi bahan bakar yang mencengangkan, 1.083 km/liter, Kumbolo EVO-3 telah mencatatkan namanya dalam sejarah kompetisi kendaraan hemat energi.
**Perjalanan Panjang Menuju Puncak**
SEM APME 2025 bukanlah kompetisi biasa. Ajang tahunan ini mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai universitas di Asia Pasifik dan Timur Tengah, menantang mereka untuk menciptakan solusi mobilitas masa depan yang inovatif dan berkelanjutan.
Semeru Team, yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa berbakat dari UM, telah mendedikasikan waktu dan tenaga mereka untuk mengembangkan Kumbolo EVO-3. Kendaraan ini bukan sekadar mesin, tetapi perwujudan dari visi mereka untuk menciptakan teknologi yang ramah lingkungan dan efisien.
Perjalanan mereka tidaklah mudah. Tantangan demi tantangan harus dihadapi, mulai dari riset dan pengembangan, perancangan dan pembuatan, hingga pengujian dan penyempurnaan. Namun, dengan semangat pantang menyerah dan kerja sama tim yang solid, mereka berhasil mengatasi setiap rintangan.
Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan
Kumbolo EVO-3 bukan sekadar kendaraan hemat bahan bakar, tetapi juga kendaraan yang ramah lingkungan. Tim Semeru memilih etanol, bahan bakar nabati yang terbarukan, sebagai sumber energi utama. Keputusan ini sejalan dengan komitmen mereka terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin Responsible Consumption and Production dan Climate Action.
Selain bahan bakar etanol, Kumbolo EVO-3 juga dilengkapi dengan berbagai inovasi teknologi canggih, antara lain:
* Bodi kendaraan berbahan serat karbon yang ringan dan kuat.
* Ban dengan rolling resistance rendah untuk mengurangi gesekan.
* Low friction bearing untuk meminimalkan kehilangan energi.
Inovasi-inovasi ini berhasil mengurangi bobot Kumbolo EVO-3 dari 47 kg menjadi 43 kg, sehingga meningkatkan efisiensi bahan bakarnya secara signifikan.
Tegar Adityah, pengemudi Kumbolo EVO-3, menghadapi tekanan yang luar biasa di sirkuit internasional Lusail. Lintasan yang luas dan kompleks, serta persaingan yang ketat dari tim-tim internasional, sempat membuatnya merasa cemas.
“Awalnya, saya merasa khawatir dan cemas karena kompetitor pada kompetisi kali ini lingkupnya lebih luas dan mencakup wilayah internasional. Yang saya pikir, pasti mereka memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada saya,” ujarnya.
Namun, kecemasan itu tidak berlangsung lama. Dengan persiapan yang matang dan keyakinan pada tim dan diri sendiri, Tegar berhasil mengatasi tantangan dan membawa Kumbolo EVO-3 meraih kemenangan.
“Waktu itu, tantangan yang saya dapat adalah tantangan di arena sirkuit. Lintasan yang dipakai di kancah internasional terbilang lebih luas sehingga mengakibatkan jarak pandang saya ke lintasan menjadi terganggu, tidak ada penanda belokan dan lintasan waktu itu lebih miring jadi saya merasa racing line lebih kompleks. Namun, dengan keyakinan penuh dan percaya bahwa saya dan tim telah mengusahakan yang terbaik. Alhamdulillah, Tuhan memberikan kami kesempatan menjadi juara dan mendapat hasil yang memuaskan serta membanggakan,” tutur Tegar dengan bangga.
Kemenangan Semeru Team di SEM APME 2025 adalah hasil dari kerja keras, kerja sama, dan dedikasi yang tak kenal lelah. Tim ini telah membuktikan bahwa dengan semangat dan tekad yang kuat, tidak ada yang mustahil.
Manajemen waktu dan pembagian tugas yang efektif menjadi kunci keberhasilan mereka. Setiap anggota tim memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing, dan mereka bekerja sama secara harmonis untuk mencapai tujuan bersama.
“Perjalanan Semeru Team untuk meraih kemenangan tidaklah mudah. Penerapan manajemen waktu dan pembagian tugas yang efektif menjadi tonggak utama untuk memastikan kegiatan penelitian dan kegiatan manufaktur berjalan teratur dan sesuai rencana,” kata salah satu anggota tim.
Kemenangan Semeru Team tidak hanya membanggakan Universitas Negeri Malang, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia. Mereka telah menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan teknologi yang inovatif dan berkelanjutan.[rea]






