Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) tengah menyiapkan langkah strategis untuk menjawab perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., mengungkapkan bahwa pihaknya telah membentuk task force atau tim khusus guna mempersiapkan pembukaan program studi baru yang berfokus pada bidang Artificial Intelligence.
Langkah ini menjadi bagian dari respon proaktif Unisma terhadap arahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dalam mendorong kampus berdampak dan menyesuaikan kurikulum pendidikan tinggi dengan kebutuhan era digital.
“Kami sedang mengkaji beberapa nomenklatur program studi yang terkait dengan AI untuk bisa membuka prodi baru. Saat ini, task force sudah bekerja dan menyusun berbagai persyaratan teknis dan administratif,” ujar Prof. Junaidi saat menghadiri seminar nasional ‘Arah Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi Menuju Kampus Berdampak’ di Gedung Pascasarjana Unisma, Rabu (11/6/2025).
Pembentukan tim tersebut sekaligus menjawab dorongan dari Dr. Berry Juliandi, S.Si., M.Si., Plt. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal, Pendidikan Tinggi (Belmawa Ditjen Dikti), yang mendorong kampus-kampus agar mulai membuka program studi yang berkaitan langsung dengan teknologi masa depan seperti AI, data science, dan komputasi awan.
Berry menyebutkan, Indonesia sedang menuju ekosistem pembelajaran fleksibel dan adaptif berbasis lifelong learning. Dalam ekosistem ini, microcredential dan digital learning akan menjadi andalan.
“Unisma adalah contoh kampus swasta yang aktif menjemput perubahan. Rencana pembukaan prodi AI ini sangat sejalan dengan arah kebijakan nasional,” kata Berry.
Selain pengembangan prodi AI, Unisma juga tengah memperkuat sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Saat ini, pembelajaran hybrid telah diterapkan di berbagai program studi. Namun, kampus ini sedang dalam proses memperoleh izin resmi untuk menyelenggarakan PJJ penuh pada program studi unggulan.
“Mudah-mudahan semester depan sudah bisa berjalan. Kami fleksibel, karena penerimaan mahasiswa baru bisa dilakukan tidak hanya pada awal tahun akademik, tetapi juga di awal semester genap,” jelas Prof. Junaidi.
Langkah Unisma ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi swasta tak kalah siap dalam menyongsong era digitalisasi pendidikan. Melalui inovasi kurikulum dan pembukaan program studi berbasis kebutuhan masa depan, Unisma mempertegas komitmennya menjadi kampus berdampak di level nasional maupun global. (dan/kun)






