Blitar (beritajatim.com) – Jumlah industri rokok yang beroperasi di wilayah Kota Blitar terus bertambah setiap tahunnya. Pabrik rokok baik skala kecil, menengah hingga besar terus bermunculan mengubah lanskap (tata ruang), ekonomi dan sosial budaya di kota yang dikenal sebagai Bumi Bung Karno ini.
Terbaru di tahun 2025 ini, sudah ada 1 pabrik rokok yang akan beroperasi di Kota Blitar. Pabrik rokok yang akan beroperasi ini bergerak di sektor Sigaret Kretek Tangan (SKT). Diketahui pabrik rokok tersebut sudah mengurus perizinan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Blitar.
Meski telah mengurus perizinan namun Kepala DPMPTSP Kota Blitar, Heru Eko Pramono masih enggan menyebutkan perusahan rokok tersebut. Heru menegaskan bahwa kemungkinan besar pabrik rokok SKT ini akan beroperasi di Blitar pada akhir 2025 mendatang.
“Ini sudah ada 1 (perusahaan rokok) yang insyaallah di tahun ini akan operasional karena perizinannya sudah final gitu, bahkan beberapa peralatan sudah digeser ke lokasi pabrik yang baru. Mudah-mudahan saja di triwulan terakhir 2025 mereka sudah bisa beroperasional penuh di Kota Blitar,” ucap Heru kepada jurnalis, Senin (2/6/2025) lalu.
Kota Blitar sendiri memang tengah dilirik para pengusaha rokok. Tercatat beberapa perusahan rokok besar sudah mendirikan pabrik di kota berjuluk Bumi Bung Karno tersebut.
Dua diantara pabrik rokok besar yang menjalankan bisnisnya di Blitar adalah PT HM Sampoerna Plant Blitar serta PT Gudang Garam. Kedua perusahan rokok besar ini sudah beroperasi di Kota Blitar sejak tahun 2024 kemarin.
Selain dua perusahan besar tersebut masih ada beberapa industri rokok kelas menengah dan kecil yang beroperasi di Blitar. Banyaknya perusahan rokok yang tumbuh di Kota Blitar ini tidak lepas dari faktor murahnya upah buruh.
Terbaru UMK (upah minimum kota/kabupaten) untuk buruh di Kota Blitar hanya sebesar Rp.2,4 juta. Tentu dengan kondisi ini membuat para pengusaha rokok tak segan untuk mencoba bisnisnya di Bumi Bung Karno.
“Kita punya nilai jual salah satunya adalah daya saing dalam hal nilai upah minimum regionalnya, disamping juga kemudahan-kemudahan yang kami fasilitasi,” bebernya.
Banyaknya pabrik rokok yang tumbuh ini pun memberikan dampak positif untuk Kota Blitar. Berkat adanya pabrik-pabrik rokok ini nilai investasi yang didapatkan Kota Blitar bisa meningkat.
PT HM Sampoerna Plant Blitar serta PT Gudang Garam misalnya. Kedua perusahaan rokok tersebut menyumbang investasi senilai Rp.301 miliar untuk Kota Blitar. Tentu jumlah itu cukup besar untuk sebuah kota dengan 3 kecamatan.
“Memang kita ditarget setiap tahun itu harus ada yang masuk, mengingat bahwa sebuah kota atau daerah itu perkembangannya dinilai salah satunya dari investasi yang masuk,” tegasnya.
Kini perlahan Kota Blitar yang sempat dijuluki menjadi kota pensiun berubah menjadi daerah industri. Hiruk pikuk Kota Blitar pun akan semakin sibuk, perubahan ekonomi, tata ruang serta sosial budaya tentu akan terjadi seiring dengan banyaknya industri yang tumbuh di kota ini. [owi/aje]






