Adakah keberutungan dan kesialan dalam sebuah pertandingan sepak bola?
Pertandingan Borneo melawan Persebaya sudah hendak memasuki menit akhir. Ofisial pertandingan memberikan tambahan enam menit. Skor sementara 1-1.
Ini pekan ke-33. Pekan krusial untuk penentuan peringkat tim Liga 1 yang bisa berlaga di level Asia.
Bruno Moreira membawa Persebaya unggul lebih dulu melalui titik penalti pada menit 61, yang dibalas Matheus Pato melalui cara yang sama pada menit 77.
Memasuki menit 90+5, Mohammed Rashid mengirimkan bola silang datar ke depan gawang Borneo FC yang dikawal Nadeo Argawinata. Bola mulus meluncur seperti membelah lautan, dan Malik Risaldi menyambarnya sambil menjatuhkan diri.
Ini masalah momentum. Seharusnya 99 persen momentum itu mengubah skor menjadi 2-1 untuk Persebaya di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (18/5/2025),
Seharusnya 8.841 pasang mata penonton yang hadir hanya menunggu waktu selebrasi para pemain Persebaya.
Seharusnya.
Namun saat kiper Borneo Nadeo Argawinata masih menerka harus bergerak ke mana, bola yang dihantam kaki Malik justru melambung melewati mistar gawang, mengingatkan orang pada lirik lagu Anggun Cipta Sasmi: melambung jauh, terbang tinggi, bersama mimpi. Mimpi tiga poin di Segiri.
Malik Risaldi adalah pemain tim nasional Indonesia. Berposisi sebagai pemain sayap, dia sudah menciptakan empat gol dan lima assist untuk Persebaya musim ini. Sebagian di antaranya pada posisi sulit. Namun malam itu di Segiri, dia tak akan bisa menjelaskan: mengapa sebuah peluang matang terbuang.
Keberuntungan dan kesialan adalah kombinasi variabel yang tak bisa dikendalikan manusia. Ia terakumulasi dari hal-hal yang tak terjelaskan: menjadi antitesis bagi segala sesuatu yang dirancang rapi dengan pengandaian sempurna. Ia tak bisa diprediksi, dan tak ubahnya chaos dalam order. Kekacauan dalam keteraturan.
Mungkin karena itulah Chris Anderson dan David Sally membahas hal-ihwal keberuntungan dan kesialan ini pada bagian tersendiri buku The Numbers Game. Pertanyaan besarnya: ‘are football matches and league championships decided by skill, or are they decided by luck?’
Anderson dan Sally mengatakan, jika pertandingan sepak bola lebih ditentukan faktor teknis, logikanya tim terbaik yang akan menang, seharusnya menang.
“If it is more about luck, then what good does it do for an owner to spend millions on players, for a manager to drill them into perfect harmony and for fans to roar themselves hoarse encouraging them to victory?”
Apa gunanya sederet pemain bergaji mahal dengan kemampuan menendang dan menanduk bola nyaris sempurna, jika hasil pertandingan ditentukan keberuntungan?
Anderson dan Sally telah memeriksa ribuan pertandingan liga lintas Eropa dan Piala Dunia. Mereka pada satu kesimpulan: 50 persen hasil pertandingan sepak bola ditentukan oleh skill dan separuhnya ditentukan kebeuntungan.
Lebih spesifik lagi: ada dua cara untuk memenangi pertandingan: tampil bagus atau beruntung. Namun sebuah tim butuh keduanya untuk memenangi kompetisi atau turnamen. Namun bagaimana orang bisa berharap memenangi sesuatu dengan bergantung pada sesuatu yang acak dan tak disengaja?
Martin Lames, seorang ilmuwan pada Training Science and Computer Science in Sport at the Technical University Munich, mengembangkan sistem coding yang memungkinkan penelitian terhadap kejadian di lapangan hijau sepanjang pertandingan.
Sebagian gol dicetak berkat kerja keras di lapangan yang merupakan hasil latihan rutin dan kemampuan teknis maupun bakat. Sebagian lainnya tercipta karena bola pantul yang gagal diantisipasi, bola melintir, atau kesalahan tekel.
Dari hasil penelitiannya, Lames menyebut 44,4 persen gol terjadi berbau keberuntungan. Namun dia menekankan bahwa, ketidaksengajaan yang berujung gol bisa terjadi ketika sebuah tim tetap bermain berdasarkan sistem yang diterapkan sejak awal pertandingan. Dengan kata lain: tiada keberuntungan tanpa konsistensi.
Namun keberuntungan dan peluang tidak selalu berbanding lurus. Hasil penelitian Lames menunjukkan, hanya 45 persen tim yang lebih banyak menembak ke arah gawang menjadi pemenang pertandingan di liga Italia dan Jerman. Sementara di Inggris, hanya 47 persen tim yang paling rajin mengarahkan tembakan ke gawang lawan yang bakal menang.
Namun, 50-58 persen tim yang lebih banyak menembakkan bola tepat sasaran ke gawang, lebih banyak memenangi pertandingan.
Di ujung penjelasannya, Anderson dan Sally hanya bisa mengatakan dengan nada pasrah:
We cannot control chance. We have to accept that half the time, what happens out there on the pitch is not in our hands. The rest of football, the other 50 per cent, though, is for each team to determine.
Inilah yang harus dilakukan sebuah tim dan seorang pemain: nemaksimalkan 50 persen peluang untuk menang tanpa harus bergantung pada nasib baik atau buruk. Kita tidak bisa mengontrol tinggi rumput, cuaca hujan atau terik, atau permukaan lapangan yang tidak rata sempurna.
Namun sebagaimana kata pelatih filsuf asal Spanyol, Juanma Lillo: ‘As a coach all you can [do] is deny fortune as much of its role as you possibly can.’
Yang itu artinya klub harus membelanjakan uang dengan bijak untuk membeli pemain yang tepat, berlatih dengan benar dan keras, mengembangkan taktik yang jitu, dan memilih pelatih yang memiliki visi dan filosofi yang kuat.
Dengan kata lain, tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti bagaimana Malik Risaldi bisa gagal menceploskan bola. Namun momentum pada menit 90+5 itu bisa dilihat sebagai bagian dari variabel hasil akhir pertandingan yang ditentukan oleh proses panjang sebelum dan saat pertandingan.
Kegagalan Malik hanya 50 persen penyebab kegagalan Persebaya memenangi pertandingan, dan sisanya merupakan akumulasi rangkaian hasil kerja keras sebelum pertandingan.
“We can’t all be lucky. But we can all try to be good.”
Saya rasa kita semua setuju dengan pernyataan Anderson dan Sally itu. Daripada kita terjebak pada perdebatan panjang tanpa berujung kepastian soal dalih siapa yang beruntung dan siapa yang buntung. [wir]






