Surabaya (beritajatim.com) – Mantan direktur utama PT Semen Indonesia dan kepala SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi), Dwi Soetjipto memaparkan Blue Ocean Strategy (Strategi Samudera Biru), dalam kuliah tamu mata kuliah Manajemen Strategis dan Manajemen Teknologi dan Inovasi yang diselenggarakan Departemen Manajemen Bisnis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 9 Mei 2025.
Dwi menjelaskan dengan gamblang konsep bisnis Blue Ocean Strategy yang diperkenalkan W. Chan Kim dan Renée Mauborgne dalam buku mereka “Blue Ocean Strategy” yang terbit pada 2005, di hadapan ratusan mahasiswa peserta luring dan daring.
Blue Ocean Strategy mencari potensi segmen/ceruk pasar yang baru, yang belum dimasuki oleh produk yang ada di pasar yang sudah ada. “Strategi ini mendorong perusahaan untuk keluar dari kompetisi langsung dan menciptakan pasar baru yang belum tersentuh pesaing,” kata Dwi yang juga pernah menjadi Direktur Utama PT Pertamina ini.
Ada tiga prinsip yang harus dipegang teguh, yakni inovasi nilai, menciptakan permintaan baru, dan tiba lebih dulu dibandingkan kompetitor. Prinsip ini yang membedakannya dengan Strategi Samudera Merah (Red Ocean Strategy).

Strategi Samudera Merah mengasumsikan pasar dipenuhi pesaing dan sangat ketat. Ini membuat terjadi pertarungan harga yang ‘berdarah-darah’. “Survive or die,” kata Dwi.
Ini berbeda dengan Strategi Samudera Biru yang mengandaikan pasar baru tampa pesaing. Perusahaan bertumbuh lebih cepat dan mejadi pemimpin pasar dengan daya saing kuat.
“Blue Ocean Strategy berlandaskan pada bagaimana mencari segmen baru pada pasar yang sudah ada, melalui inovasi untuk menciptakan nilai tambah dari produk yang ada maupun meng-create produk baru,” kata Dwi.
Dengan situasi Indonesia saat ini, Blue Ocean Startegy sangat tepat untuk diimplementasikan dan dibutuhkan dalam menghadapi dinamika pasar yang tidak stabil seperti yang diakibatkan perang tarif global, maupun perubahan geopolitik.
“Kunci sukses mengimplementasikan Blue Ocean Strategy adalah kemampuan inovatif dari setiap perusahaan/ negara yang mengimplementasikannya, karena memang harus ada inovasi untuk mencari nilai tambah pada produk yang ada, maupun meng-create produk baru untuk memenuhi kebutuhan segmen/ceruk pasar yang ada ataupun meng-create pasar baru,” katanya.
Dwi menekankan Blue Ocean Strategy sangat tepat diimplementasikan untuk startup bisnis, karena start up bisnis harus bisa menciptakan nilai tambah produk di pasar yang ada.

Human capital atau Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi faktor kunci. “Pengembangan Sumber Daya Manusia harus diarahakan untuk meningkatkan kemampuan inovasi sebuah perusahaan atau sebuah bangsa,” kata Dwi.
Dwi lantas mencontohkan penggunaan Blue Ocean Strategy yang dilakukan PT Semen Indonesia dengan memilih ekspansi pasar ke Vietnam. “Pertama, Vietnam merupakan negara yang memiliki garis pantai yang panjang, sehingga lokasi sangat bagus untuk menjadi hub agar SMIG bisa memasok suplai ke regional, dan memasok ke Kamboja, Laos, Philipina dan pasar ekspor lainnya,” kata Dwi.
Vietnam juga baru saja mengalami kelesuan di bidang ekonomi, sehingga membuat Semen Indonesia lebih mudah masuk. “Faktor lainnya adalah hubungan Indonesia dan Vietnam sudah terjalin dengan baik,” kata Dwi.
Ketiga, TLCC merupakan perusahaan yang cukup bagus, dengan teknologi yang baik dan infrastruktur yang memadai.
Sementara untuk industri minyak dan gas bumi, strategi Samudera Biru diarahkan dengan memanfaatkan surplus gas bumi di tengah neraca perdagangan minyak yang mengalami defisit, akibat konsumsi domestik lebih tinggi daripada produksi.
“Indonesia adalah Pioneer LNG di dunia dan masih net exporter gas. Di masa depan serapan gas baik untuk domestik dan ekspor masih akan terus meningkat,” kata Dwi.
Terakhir, Dwi menekankan elemen kepemimpinan yang kuat dalam menjalankan Blue Ocean Strategy ini. “Visioner, kerja keras dan keteladanan, komunikatif, kepedulian (sense of empathy), kepekaan (sense of urgecy dan sense of crisis), dan fokus,” katanya. [wir/but]






