Kediri (beritajatim.com) – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menyebut perputaran ekonomi di sekitar Pabrik Gula (PG) Ngadirejo Kediri fastastis dari industri pengolahan tebu menjadi gula. Angka ini memberi kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) daerah.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT SGN melalui Imam Suwito saat menghadiri selamatan buka giling beberapa hari lalu. Menurut kalkulasinya, jika musim giling 2025, PG Ngadirejo Kediri memasang target untuk menggiling 10 juta kwintal tebu dengan menghasilkan 80 ton gula, maka uang yang beredar di sekitar pabrik mencapai Rp1 triliun.
“Kalau 80 ton gula yang dihasilkan PG Ngadirejo Kediri, maka perputaran ekonomi di wilayah Ngadirejo ini, Kecamatan Kras, Ngadiluwih dan Kediri sekitarnya sangat besar. Kalau harga gula katakan Rp14.500 kali 80 ribu ton, itu sudah hampir Rp1,1 triliun. Itu semua miliknya petani, karena 85 persen miliknya petani,” urainya.
Imam optimistis bahwa bila seluruh hasil tebu Kediri digiling di dalam wilayah sendiri, maka kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) daerah akan besar.
“Bisa kita maknai apabila tebu Kediri masuk ke Kediri semua, betapa kayanya Kediri ini. Produk Domestik Bruto pasti besar, sehingga kesejahteraan rakyat Kediri juga pasti akan lebih baik,” katanya.
Pihaknya mengapresiasi kontribusi petani tebu dalam keberhasilan PG Ngadirejo. “Terima kasih juga kepada petani yang selama ini menggiling tebunya di PG Ngadirejo. Ini juga sumbangsih petani. Gula yang dihasilkan itu 85 persen, berasal dari gulanya petani,” tegasnya.
Imam berharap agar iklim mendukung dan produksi tahun ini dapat menyamai pencapaian tertinggi yang pernah diraih.
“Kami juga minta suport di wilayah Ngadirejo agar cita-cita 1 juta ton bisa dicapai. Sehingga GM ingin memecahkan rekor seperti tahun 2016, waktu itu hujannya cukup panjang. Mudah-mudahan tahun ini curah hujan bagus, dan produknya juga tinggi,” ucapnya.
General Manager PG Ngadirejo, Wayan Mei Purwono, menegaskan komitmen manajemen untuk mencapai target ambisius yang belum tercapai sejak 2016.
“PG Ngadirejo ingin bercita-cita menggiling tebu 10 juta kuintal. Karena lama, PG Ngadirejo tidak menggiling 10 juta kuintal, terakhir 2016. Mudah-mudahan bahan baku yang kita giling siap. Harapan kami sebagai manajemen mensukseskan giling tahun 2025,” ucapnya.
Wayan juga menyoroti perlunya peningkatan performa di seluruh lini produksi. Untuk menunjang performa tersebut, PG Ngadirejo telah menggelontorkan dana Rp22 miliar untuk revitalisasi pabrik warisan kolonial Belanda.
Investasi itu bertujuan untuk meningkatkan performance. Sebagaimana diketahui bahwa pabrik gula ini merupakan peninggalan Belanda yang harus terus merevitalisasi agar tetap performa dan bersaing.
Sementara itu, selain dari Kediri, tebu juga dipasok dari Blitar, Malang, dan lahan HGU milik PG sendiri. Target produksi gula tahun ini sebesar 80 ribu ton, dengan rendemen di atas 8,12 persen dan proyeksi laba lebih dari Rp150 miliar.
Untuk diketahui, Kabupaten Kediri adalah salah satu sentra produksi tebu di Jawa Timur dan nasional. Di Kediri luas panen pertahun sekitar 22 ribuan hektar, dengan produksi 1,80 juta ton. [nm/aje]






