Kediri (beritajatim.com) – Tradisi Manten Tebu kerap disalahartikan sebagai praktik mistis, terutama setelah munculnya film horor bertema pabrik gula. Namun, pemahaman tersebut keliru. Manten Tebu sejatinya adalah wujud kearifan lokal yang sarat nilai positif dan kebersamaan.
Dalam bahasa Jawa, manten berarti pengantin, sementara tebu merujuk pada tanaman penghasil gula. Tradisi ini menggambarkan pernikahan simbolis antara dua batang tebu pilihan sebagai perwakilan leluhur dan alam.
Menurut arsip Dinas Kebudayaan Tulungagung tahun 2018, tradisi ini awalnya dipraktikkan oleh buruh pabrik dan petani tebu sebagai bentuk permohonan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dalam kepercayaan Jawa.
Pada Jumat, 9 Mei 2025 pagi, PT Sinergi Gula Nusantara menggelar Selamatan Buka Giling di Pabrik Gula Ngadirejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Acara dimulai dengan prosesi Manten Tebu yang diawali pembawa acara nyondro diiringi gending ‘Kebo Giro’, kemudian diikuti cucuk lampah dan pembawa tebu manten, serta barisan Kesenian Jaranan.
Tebu manten diserahkan secara simbolis dari petugas pembawa ke perwakilan petani, lalu diteruskan secara berurutan ke Asman Tebang Muat Angkut, Manajer Tanaman, General Manajer, Manajer Instalasi, Manajer Pengolahan, Manajer Quality Assurance, Manajer Keuangan, dan terakhir ke Ketua SPUK.

General Manajer PG Ngadirejo, Wayan Mei Purwono, menegaskan bahwa tradisi ini adalah bagian penting dari prosesi buka giling di pabrik-pabrik gula di Jawa.
“Memang hampir semua pabrik gula, terutama di Jawa melaksanakan tradisi Manten Tebu, itu bagian dari seremonial bahwa kita akan melaksanakan giling dengan diwujudkan tebu yang dibawa pengantin yang sudah layak, sudah manis, sudah bersih, segar dan siap ditebang dan digiling PG Ngadirejo,” tegasnya.
Wayan menambahkan bahwa tahun ini prosesi lebih lengkap dan terasa lebih bermakna. Kehadiran Kesenian Jaranan, Wayang Kulit menjadi warna tersendiri dalam prosesi ini.
“Dibanding tahun kemarin prosesi tahun ada jaranan di depan, Biasanya hanya diledang. Tahun ini lebih lengkap dan lebih mengena. Ada juga nanti siang wayang ruat. Wayang di desa sini Jambean, intinya kita tidak meninggalkan tradisi. Seperti siang ini ada jaranan sini. Ini bagian dari tradisi yang tidak kita tinggalkan, ini kearifan lokal yang kita pertahankan,” paparnya. [nm/beq]






