Kediri (beritajatim.com) – Para petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) menyuarakan harapan besar terhadap Pabrik Gula (PG) Ngadirejo, Kediri, pada musim giling 2025 yang dimulai 11 Mei. Dengan target penggilingan 10 juta kuintal tebu, kolaborasi antara petani, manajemen PG, serta dukungan pemerintah dinilai krusial demi keberhasilan produksi dan peningkatan kesejahteraan.
Perwakilan APTR, H. Mujianto, menyampaikan apresiasi atas kemitraan yang selama ini dibangun PG Ngadirejo dengan berbagai elemen. “Kami mewakili petani mitra PG Ngadirejo mengucapkan terima kasih kepada PT SGN (Sinergi Gula Nusantara) sampai PG Ngadirejo dengan tema akan beriktiar membangun kemitraan. Tentunya kemitraan ini meliputi berbagai elemen, tidak hanya pabrik gula dengan petani, tetapi dengan pemda, aparat keamanan, pemerintah pusat, tokoh masyarakat dan lainnya untuk bersinergi, kerjasama sehingga musim giling 2025 akan lebih baik dibanding sebelumnya,” jelasnya.
Mujianto menekankan pentingnya kualitas hasil produksi dan sistem pembayaran yang lancar bagi petani. “Insya Allah cita-citanya akan memproduksi 10 juta kuintal. Nampaknya cita-cita tersebut, ada tanda-tanda mulai 2024 ada kenaikan signifikan… tinggal yang perlu ditingkatkan kualitas produksi, apakah kristal gula, atau warnanya lebih bagus,” ujarnya.
General Manager PG Ngadirejo, Wayan Mei Purwono, menegaskan komitmen manajemen untuk mencapai target ambisius yang belum tercapai sejak 2016. “PG Ngadirejo ingin bercita-cita menggiling tebu 10 juta kuintal. Karena lama, PG Ngadirejo tidak menggiling 10 juta kuintal, terakhir 2016. Mudah-mudahan bahan baku yang kita giling siap. Harapan kami sebagai manajemen mensukseskan giling tahun 2025,” ucapnya.
Wayan juga menyoroti perlunya peningkatan performa di seluruh lini produksi. “Target kita lebih tinggi. Tidak mungkin melakukan hal yang sama, menghasilkan sesuatu yang berbeda. Kalau performa kita sama tahun kemarin, ya hasilnya tidak akan berbeda dari tahun kemarin. Kita akan membuat sejarah,” tegasnya.
Untuk menunjang performa tersebut, PG Ngadirejo telah menggelontorkan dana Rp22 miliar untuk revitalisasi pabrik warisan kolonial Belanda. “Tujuannya untuk meningkatkan performance, kita tahu bahwa pabrik gula ini merupakan peninggalan Belanda, kita harus terus merevitalisasi pabrik gula ini agar tetap performa dan bersaing,” kata Wayan.
Selain dari Kediri, tebu juga dipasok dari Blitar, Malang, dan lahan HGU milik PG sendiri. Target produksi gula tahun ini sebesar 80 ribu ton, dengan rendemen di atas 8,12 persen dan proyeksi laba lebih dari Rp150 miliar.
Dukungan pemerintah juga menguatkan upaya tersebut. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. “Kabupaten Kediri adalah salah satu sentra produksi tebu di Jawa Timur dan nasional. Di Kediri luas panen pertahun sekitar 22 ribuan hektar, dengan produksi 1 juta 800 ton. Mungkin yang terbesar di PG Ngadirejo ini,” kata perwakilan dinas.
Ia juga menyinggung urgensi keberhasilan musim giling 2025 sebagai bagian dari agenda nasional menuju swasembada gula. “Kami berharap bisa dijaga dan ditingkatkan. Mohon untuk doa restu, target 10 juta kwintal pada tahun ini supaya bisa tercapai. Mungkin tahun 2028 kita dituntut untuk swasembada gula,” ujarnya. [nm/but]






