Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi berbasis teknologi dengan memperkenalkan model perguruan tinggi berbasis Artificial Intelligence (AI) dalam forum internasional International Symposium of 12 Countries, 12 Universities yang digelar di Nanjing University of Posts and Telecommunications (NJUPT), Tiongkok.
Dalam forum bergengsi tersebut, Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Sc., Ph.D.Med.Sc., hadir sebagai pembicara utama dalam sesi bertema Artificial Intelligence on Empowering Higher Education Cooperation.
Ia menekankan bahwa UB telah secara menyeluruh mengintegrasikan teknologi AI ke dalam sistem pendidikan dan riset kampus.
“Kami tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi menjadikannya fondasi dalam membangun kurikulum, sistem akademik, dan ekosistem riset yang inovatif,” ujar Prof. Widodo.
Menurutnya, seluruh mahasiswa UB dibekali dengan keterampilan dan pemahaman terkait pemanfaatan teknologi AI, terlepas dari jurusan atau program studi yang mereka tempuh.
Teknologi ini digunakan untuk menganalisis capaian belajar mahasiswa, mengenali potensi individu, dan mengoptimalkan proses pemantauan akademik secara real-time.
“AI bukan sekadar teknologi. Ia adalah katalisator dalam membentuk masa depan pendidikan tinggi yang lebih inklusif, adaptif, dan kolaboratif,” tambahnya.
Tidak hanya diterapkan dalam sistem pembelajaran, AI juga menjadi penggerak utama dalam penguatan riset multidisiplin di UB. Dengan dukungan fasilitas AI Centre dan super computer, UB mampu mengembangkan riset berbasis data yang lebih akurat serta mempercepat proses pengambilan keputusan ilmiah.
Lebih lanjut, UB turut aktif menjalin kerja sama internasional berbasis teknologi AI. Dalam forum tersebut, Prof. Widodo mengajak seluruh anggota konsorsium dari 12 negara untuk membangun ekosistem pembelajaran digital lintas negara.
Ajakan ini mencakup kolaborasi riset, pertukaran dosen, serta penguatan jaringan akademik global. “AI harus kita jadikan penghubung antarnegara, bukan penghalang. Ini kunci untuk membangun pendidikan tinggi yang adil dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sesi tersebut dihadiri pimpinan universitas dari Tiongkok, India, Rusia, Thailand, Malaysia, Filipina, Kazakhstan, Nepal, Uzbekistan, Prancis, dan Belarus. Forum ini menjadi panggung strategis dalam menjajaki kolaborasi internasional di tengah akselerasi transformasi digital pendidikan global.
Kepala UPT Reputasi UB, Dr. Hendrix Yulis Setyawan, S.TP., M.Si., Ph.D., yang turut mendampingi dalam forum tersebut, menegaskan bahwa partisipasi UB merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat jejaring internasional melalui pendekatan teknologi.
“Forum ini menjadi momen penting bagi UB untuk menunjukkan komitmen dalam transformasi digital. AI di UB bukan hanya perangkat teknologi, tapi juga bagian dari infrastruktur akademik yang memperkuat reputasi global kampus,” katanya.
Dengan keterlibatan aktif dalam forum internasional ini, Universitas Brawijaya mempertegas posisinya sebagai pelopor transformasi pendidikan tinggi Indonesia, yang siap bersaing dalam era kecerdasan buatan dan kolaborasi global. [dan/suf]






