Bojonegoro (beritajatim.com) – Di balik gemuruh sorak penonton dan gegap gempita stadion, ada kisah sunyi seorang ibu yang membanting tulang di sudut kampung kecil di Bojonegoro.
Namanya Piana, perempuan berusia 44 tahun asal Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk. Ia bukan tokoh besar, bukan pula orang berpunya—hanya seorang buruh cuci yang menyulam harapan dari cucuran keringat dan doa.
Piana adalah satu dari sekian banyak ibu yang merangkap peran sebagai ayah dan ibu sekaligus. Sejak berpisah dengan suaminya, ia menanggung sendiri hidup dua anaknya.
Anak sulungnya, Fadly Alberto Hengga, kini menjadi harapan bangsa sebagai penyerang utama Timnas Indonesia U-17m yang saat ini berlaga di Arab Saudi dan telah lolos Piala Dunia U17 di Qatar November 2025 nanti .
“Sejak kelas dua SD, anak saya sudah suka sepak bola. Waktu itu saya lihat dia semangat sekali main bola pakai bola plastik,” kenang Piana dengan senyum lirih, Jumat (11/4/2025).
Demi mengasah bakat sang anak, Piana rela menyisihkan uang dari hasil mencuci baju dan mengasuh anak tetangga.

Dalam kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, ia tetap menyekolahkan Alberto ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Sukorejo Putra Bojonegoro. Sebuah langkah kecil, yang kemudian mengantar Fadly menapak panggung besar.
Jejak Kecil di Tanah Perhutani
Rumah semi permanen berukuran 4×8 meter yang dulu mereka tinggali berdiri di atas tanah milik perhutani. Atapnya dari seng, dindingnya anyaman bambu.
Tapi bagi Piana, rumah itu adalah istana harapan. Dari situlah ia mengantar Alberto menempuh latihan sepak bola, walau harus berjalan kaki atau naik sepeda butut.
Di bawah asuhan pelatih Hadi Purwanto, Alberto menempa diri hingga akhirnya direkrut Bhayangkara FC Muda pada 2023. Tak berhenti di sana, ia kemudian lolos seleksi Timnas U-16 dan ikut pelatnas di Yogyakarta. Dari sinilah jalan menuju Garuda Muda terbuka lebar.
“Senang Fadly Gabung Timnas”
Ketika nama Fadly Alberto Hengga diumumkan sebagai bagian dari Timnas U-16 yang berlaga di ASEAN U-16 Boys Championship 2024, Piana tak kuasa menahan tangis haru. Bukan karena bangga semata, tapi karena ia tahu betul seberapa berat perjalanan itu.
“Senang sekali Fadly bisa gabung Timnas. Saya tiap malam doakan dia, semoga cita-citanya tercapai,” ucapnya penuh haru.
Puncak kebanggaan datang saat Fadly turut memperkuat Timnas Indonesia U-17 dalam Kualifikasi Piala Asia 2025 zona AFC di Arab Saudi.
Dalam pertandingan melawan Afganistan, ia mencetak satu dari dua gol kemenangan Indonesia. Bahkan saat melawan Yaman, Fadly kembali mencatatkan namanya lewat sundulan tajam yang memukau.
Dengan hasil tersebut, Indonesia menjadi juara grup dan memastikan tiket menuju Piala Dunia U-17. Nama Fadly pun semakin bersinar, tidak hanya sebagai pemain, tapi juga simbol harapan dari pelosok desa.
Dari Rumah Reyot ke Rumah Harapan
Tak hanya Fadly yang merasakan dampak dari perjuangan itu. Rumah mereka yang dulu tak layak huni, kini telah berubah lebih nyaman.
Berkat prestasi sang anak, keluarga Piana mendapat perhatian dari banyak pihak, termasuk dari Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, yang memberikan bantuan sebagai bentuk apresiasi.
“Harapan saya, Fadly tetap rendah hati dan tidak sombong. Yang penting tetap jadi anak baik dan sukses,” pesan Piana, lirih namun penuh makna.
Kisah Fadly bukan hanya tentang kemenangan di lapangan hijau, tapi juga tentang cinta dan pengorbanan seorang ibu.
Dari tangan-tangan kasar yang mencuci baju dan hati yang tak pernah lelah berdoa, lahirlah bintang masa depan sepak bola Indonesia. (lus/ted)






