Malang (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kota Malang mencatat ada 2 ribu pengidap HIV/AIDS yang masih menjalani pengobatan di Kota Malang. Pada November 2024 tercatat ada 600 orang lebih terdiagnosa positif HIV/AIDS. Angka ini lebih banyak dibanding November 2023 yang mencapai 512 orang positif HIV/AIDS.
“Kalau secara keseluruhan, di Kota Malang ada 2.000 pengidap HIV/AIDS yang masih menjalani pengobatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, Sabtu, (14/12/2024).
Husnul menuturkan, bahwa Dinkes Kota Malang telah meminta 16 puskesmas memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS. Dari 16 sebanyak 2 puskesmas yakni Puskesmas Dinoyo dan Puskesmas Pandanwangi menyediakan layanan ekstra untuk pengobatan HIV/AIDS.
“Jadi ini bisa diakses oleh klien di luar jam layanan reguler sehingga kami bisa melayani mulai pukul 13.00 WIB hingga 19.00 WIB. Karena ini program nasional, maka yang mengakses tidak hanya warga ber-KTP atau berdomisili di Kota Malang saja, namun juga bisa diakses warga Malang Raya dan bahkan juga ada dari luar Malang Raya,” ujar Husnul.
Husnul menuturkan, kolaborasi lintas sektoral termasuk dengan komunitas perlu dilakukan. Terpenting lagi diskrimiansi dengan stigma negatif harus dihilangkan. Karena merusak mental penderita HIV/AIDS. “Kita harus berikan hak-hak mereka yang setara. Hilangkan stigma negatif, jangan ada diskriminasi,” ujar Husnul.
Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Miefta Eti Winindar mengatakan, bahwa tingginya angka kasus penderita HIV/AIDS mengindikasikan kesadaran masyarakat untuk periksa dan berobat. Dia berharap anak-anak muda tidak salah pergaulan agar tidak mengidap HIV/AIDS. “Anak-anak muda jangan salah pergaulan. Dalam sebulan, kasus baru sekitar 30. Jadi rata-rata sehari ada 1 pasien baru,” ujar Miefta. (luc/kun)






