Malang (beritajatim.com) – Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Maret 2025 menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia saat ini. Pada 18 Maret 2025, IHSG anjlok hingga 7,1 persen, memicu trading halt dan kepanikan di kalangan investor.
Fenomena ini menjadi yang terburuk sejak krisis pasar akibat pandemi Covid-19 pada 2020. Menurut Venus Kusumawardana, SE, MM, pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), penurunan tajam IHSG ini disebabkan oleh berbagai faktor utama, baik dari dalam negeri maupun global.
“Kejatuhan IHSG kali ini bukan hanya karena tekanan eksternal, tetapi juga menunjukkan kelemahan ekonomi domestik yang perlu segera ditangani,” ujar dosen ekonomi UMM tersebut, Jumat (21/3/2025).
Pakar ekonomi UMM mengidentifikasi beberapa katalis utama yang berkontribusi terhadap kejatuhan IHSG.
1. Defisit Fiskal yang Membengkak
Pemerintah mengalami tekanan fiskal akibat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang meningkat drastis. Pada Februari 2025, defisit mencapai Rp31,2 triliun, diperparah oleh penurunan penerimaan pajak hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Investor melihat kondisi ini sebagai tanda melemahnya fundamental ekonomi, sehingga menarik dana dari pasar saham,” ujar Trainer Pasar Modal sejak 1998 hingga saat ini tersebut.
2. Kekhawatiran terhadap Kebijakan Pemerintah
Beberapa kebijakan pemerintah yang ambisius, seperti program makan siang gratis senilai $28 miliar per tahun, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai keberlanjutan fiskal negara.
“Investor ragu apakah program ini bisa dijalankan tanpa membebani APBN secara berlebihan. Ketidakpastian ini memicu aksi jual saham besar-besaran,” kata Venus yang pernah menempuh Magister Manajemen di UMM.
3. Rumor Mundurnya Menteri Keuangan
Spekulasi mengenai kemungkinan mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambah ketidakpastian di pasar. Meskipun ia membantah rumor tersebut, kekhawatiran investor terhadap stabilitas kepemimpinan ekonomi tetap berdampak negatif terhadap IHSG.
4. Dampak Global: Penguatan Dolar AS & Suku Bunga The Fed
Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), kembali menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, menyebabkan arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Penguatan dolar AS semakin menekan rupiah dan memicu aksi jual aset berdenominasi rupiah oleh investor asing.
5. Penurunan Peringkat Saham oleh Lembaga Keuangan Internasional
Beberapa lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley menurunkan peringkat investasi saham Indonesia karena meningkatnya risiko ekonomi. Hal ini membuat investor institusi asing semakin berhati-hati dan melakukan aksi jual saham.
6. Depresiasi Rupiah yang Mencapai Level Terendah dalam Lima Tahun
Rupiah melemah tajam terhadap dolar AS, yang menambah beban bagi perusahaan dengan utang dalam valuta asing. Hal ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya risiko gagal bayar, sehingga investor semakin pesimistis terhadap pasar saham Indonesia.
7. Aksi Jual Panik (Panic Selling) oleh Investor Domestik
Sentimen negatif yang terus berkembang memicu aksi jual panik di kalangan investor domestik. “Tekanan jual yang besar tanpa adanya pembeli yang cukup membuat IHSG terus merosot,” jelas dosen pada program studi Perbankan Dan Keuangan – D3 itu.
Untuk meredam dampak negatif ini, pemerintah dan otoritas keuangan telah melakukan berbagai upaya, seperti Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menstabilkan rupiah yang mencapai level terendah dalam lima tahun terakhir.
“Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin bagi perusahaan untuk melakukan buyback saham tanpa persetujuan pemegang saham, guna menahan kejatuhan harga saham lebih lanjut,” jelasnya.
Namun, menurut pakar ekonomi UMM, langkah ini masih bersifat jangka pendek dan belum cukup untuk memulihkan kepercayaan investor.
“Pemerintah harus mengambil kebijakan yang lebih strategis dan transparan agar stabilitas ekonomi dapat segera dipulihkan,” tegas Venus.
Penurunan IHSG pada 2025 mencerminkan kombinasi dari faktor ekonomi domestik yang melemah dan tekanan global. Ketidakpastian fiskal, kebijakan pemerintah yang kontroversial, serta arus modal keluar akibat kebijakan moneter AS menjadi faktor utama yang menyebabkan gejolak pasar saham Indonesia.
Pakar ekonomi UMM menekankan bahwa tanpa evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan fiskal dan moneter, stabilitas ekonomi Indonesia bisa semakin terancam. “Pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk mengembalikan daya tarik pasar modal dan meningkatkan kepercayaan investor,” tutup Venus. [dan/aje]






