Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) konsisten melestarikan seni dan budaya Jawa, baik di lingkungan kampus maupun internasional. Komitmen ini terlihat dalam berbagai upaya, mulai dari infrastruktur kampus hingga program akademik dan kerjasama internasional.
Kampus Unesa telah mengintegrasikan arsitektur Jawa ke dalam desain bangunannya. Terdapat joglo, gazebo dengan ukiran khas Jawa, dan masjid dengan dominasi kayu dan ukiran tradisional. Hal ini, menurut Dosen Pendidikan Bahasa Jawa Unesa, Latif Nur Hasan, merupakan wujud nyata pembumian nilai-nilai kearifan lokal.
Tidak hanya infrastruktur, Unesa juga menerapkan kebijakan akademik yang unik. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa diwajibkan menulis skripsi berbahasa Jawa, termasuk abstraknya yang menggunakan aksara Jawa.
Mahasiswa tingkat akhir yang mengikuti ujian skripsi juga diwajibkan mengenakan busana Jawa, seperti beskap, kebaya, dan jarik. “Busana Jawa seperti beskap, kebaya, dan jarik menjadi bagian dari prosesi akademik yang sarat makna,” katanya, ditulis Jumat (21/3/2025).
Tradisi “Kemis Kliwonan,” di mana dosen dan mahasiswa mengenakan busana adat Jawa setiap Kamis Kliwon, juga tetap dijaga. Bahkan, rapat-rapat di Unesa, khususnya di prodi tersebut, dilakukan menggunakan bahasa Jawa.
Unesa juga aktif mempromosikan seni budaya Jawa ke kancah internasional. Kerjasama terbaru dengan Atdikbud KBRI Kuala Lumpur telah merintis program pembelajaran bahasa Jawa di Malaysia.
Unesa juga mengirimkan mahasiswa untuk mengajar gamelan dan tari tradisional Jawa di Malaysia melalui program pertukaran internasional.
Latif menambahkan bahwa semua upaya ini merupakan wujud nyata dukungan Unesa terhadap pelestarian budaya Jawa dan berkontribusi pada pencapaian pemeringkatan Jawametrik.
Unesa membuktikan bahwa sebuah perguruan tinggi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berperan penting dalam menjaga dan melestarikan identitas budaya bangsa. [ipl/aje]






