Malang (beritajatim.com) – Pasar saham Indonesia kembali mengalami gejolak,Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam, membuat banyak investor panik. Sejumlah faktor, baik dari dalam negeri maupun global, diduga kuat menjadi pemicu kejatuhan ini.
Menurut Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, SE, ME, Ph.D, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ada beberapa faktor utama yang menyebabkan pasar saham mengalami tekanan. Di antaranya adalah defisit APBN, rumor mundurnya Sri Mulyani, hingga kebijakan ambisius pemerintahan Prabowo yang memicu ketidakpastian di kalangan investor.
1. Defisit APBN & Rumor Mundurnya Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani baru-baru ini mengumumkan bahwa APBN mengalami defisit yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Walaupun ia menegaskan bahwa kondisi fiskal masih dalam batas aman, banyak investor justru menilai ini sebagai sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi Indonesia.
Lebih lanjut, beredar rumor bahwa Sri Mulyani akan mengundurkan diri, karena dianggap sudah tidak lagi memiliki independensi penuh dalam kebijakan fiskal. Desas-desus ini membuat pasar semakin gelisah.
“Investor sangat sensitif terhadap ketidakpastian politik dan ekonomi. Ketika ada rumor besar seperti ini, mereka cenderung menarik dananya dari pasar modal, sehingga menyebabkan harga saham turun,” jelas Wahyudi, pakar ekonomi UMM.
2. Investor Asing Kabur, IHSG Tertekan
Menurut pakar ekonomi UMM, investor asing masih memegang peran besar dalam pasar saham Indonesia. Lembaga internasional memberikan peringatan terkait risiko fiskal Indonesia, yang semakin diperburuk oleh:
Pelemahan nilai tukar rupiah, yang saat ini lebih lemah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Ketidakpastian global, seperti konflik Rusia-Ukraina serta perang dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat.
“Kapitalisasi pasar di Indonesia masih bergantung pada investor asing. Ketika mereka menarik dana, dampaknya langsung terasa di IHSG,” ujar Wahyudi.
3. Kebijakan Prabowo Jadi Sorotan Investor
Faktor lain yang memengaruhi IHSG adalah kebijakan pemerintahan Prabowo, terutama program-program sosialnya yang dianggap sangat ambisius. Salah satu kebijakan yang menjadi sorotan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dari sisi sosial, ini adalah program yang sangat baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, dari sisi fiskal, ada kekhawatiran mengenai keberlanjutan pendanaan program ini. Apakah anggaran pemerintah cukup untuk menanggung beban ini dalam jangka panjang?” ujar Wahyudi.
Ketidakpastian inilah yang membuat investor waspada dan cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali masuk ke pasar saham.
4. Intervensi Bank Indonesia, Mampukah Menstabilkan Pasar?
Bank Indonesia telah berusaha menstabilkan pasar dengan mempertahankan suku bunga acuan sekitar 5%. Langkah ini diharapkan dapat menjaga nilai tukar rupiah dan meredam volatilitas pasar.
Namun, pakar ekonomi UMM menilai bahwa situasi ini masih jauh dari kata stabil. Volatilitas pasar masih tinggi, terutama akibat aksi jual besar-besaran yang dilakukan investor asing.
“Pemerintah menerapkan kebijakan suspensi perdagangan saham sementara sebagai langkah menenangkan pasar. Namun, kebijakan ini sifatnya jangka pendek, sementara faktor fundamental ekonomi masih perlu diperbaiki,” jelas Wahyudi.
Di tengah kejatuhan IHSG, muncul pertanyaan: Apakah sekarang waktu yang tepat untuk membeli saham? Menurut pakar ekonomi UMM, bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum ini, penting untuk:
Pertama, Melakukan analisis yang matang sebelum membeli saham. Kedua, Memilih saham yang memiliki fundamental kuat dan potensi kenaikan harga di masa depan. Ketiga, tidak hanya berpatokan pada IHSG, tetapi juga mempertimbangkan faktor global dan domestik.
“Jangan asal membeli saham hanya karena harganya turun. Pastikan ada prospek kenaikan harga di masa depan agar tidak terjebak dalam kerugian,” saran Wahyudi.
Merosotnya IHSG saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global, termasuk defisit APBN & rumor mundurnya Sri Mulyani, investor asing menarik dana dari pasar Indonesia, kebijakan pemerintahan Prabowo yang masih menimbulkan tanda tanya besar, maupun ketidakpastian global & melemahnya rupiah.
Di tengah ketidakpastian ini, pakar ekonomi UMM menegaskan bahwa investor perlu tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan. Jangan terburu-buru panik atau ikut-ikutan tren pasar tanpa analisis yang matang.
“IHSG selalu naik-turun, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita memahami pergerakan pasar dan mengambil keputusan investasi yang bijak,” tutup Wahyudi. (dan/ian)






