Pacitan (beritajatim.com) – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Pacitan. Data dari Dinas Kesehatan setempat mencatat, dari 1.025 orang yang diperiksa, sebanyak 88 kasus terkonfirmasi positif. Meski penyakit ini telah masuk dalam program strategis nasional, tantangan dalam penanganannya masih besar, terutama terkait deteksi dini dan kepatuhan pengobatan.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, Nur Farida, menjelaskan bahwa TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, dan ginjal.
“Banyak pasien yang terlambat menyadari bahwa mereka terinfeksi, karena gejalanya mirip dengan penyakit lain. Selain itu, kepatuhan dalam mengonsumsi obat juga menjadi tantangan, sebab pengobatan yang tidak tuntas dapat menyebabkan kambuhnya penyakit ini,” jelasnya.
Untuk mengendalikan penularan, Dinas Kesehatan telah menjalankan berbagai strategi, seperti investigasi kontak terhadap orang-orang yang berinteraksi erat dengan pasien, pemberian terapi pencegahan bagi keluarga pasien, serta skrining di lokasi berisiko tinggi seperti rumah tahanan dan pabrik rokok. Selain itu, kader komunitas TBC juga dilibatkan untuk membantu menemukan kasus baru dan memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, hambatan seperti stigma sosial, kurangnya kesadaran masyarakat, dan ketidakpatuhan pasien dalam menjalani terapi masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, masyarakat diimbau lebih waspada terhadap gejala TBC, seperti batuk lebih dari dua minggu, berkeringat di malam hari, berat badan turun drastis, dan mudah lelah. “Jika mengalami gejala tersebut, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat,” pungkasnya. (tri/kun)






