Ngawi (beritajatim.com) — Bertani tidak hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga keseimbangan alam. Inilah prinsip yang dipegang teguh oleh Robby Mulyana, seorang pegiat pertanian berkelanjutan yang kini mengabdikan diri untuk mengembangkan metode pertanian ramah lingkungan di Ngawi.
Namun, perjalanan Robby menuju dunia pertanian tidaklah singkat. Dari Cirebon hingga Jakarta, berbagai pengalaman telah membentuknya menjadi sosok yang menginspirasi banyak petani.
Robby Mulyana lahir di Cirebon, sebuah kota yang lebih dikenal dengan industri gula dibandingkan persawahan penghasil padi. Latar belakang keluarganya pun lebih dekat dengan dunia industri, karena sang ayah bekerja di pabrik gula. Namun, ketertarikannya terhadap pertanian mulai tumbuh saat ia mengikuti program P4M2T (Pemberdayaan Petani) pada tahun 1998 saat masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
Program ini membawanya ke Kecamatan Pangkur, Ngawi, di mana ia berinteraksi langsung dengan para petani. Dari pengalaman ini, Robby mulai memahami tantangan yang dihadapi petani kecil, terutama dalam menghadapi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia.
“Meski saat itu saya belajar ekonomi, tapi dengan mendampingi para petani ini saya merasa nyaman, dan lebih banyak belajar tentang pertanian,” terang Robby saat ditemui di kediamannya, Selasa (11/3/2025).
Bekerja di Industri Pupuk dan Pergulatan Batin
Setelah program pendampingan petani berakhir pada 2001, Robby bekerja di perusahaan pupuk dan pestisida. Namun, pekerjaan ini justru menimbulkan dilema moral baginya. Ia merasa bahwa penggunaan pestisida berlebihan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia.
Dari kegelisahan tersebut, Robby memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari metode bertani yang lebih ramah lingkungan. “Saya mulai bergabung dengan komunitas pertanian organik dan mendalami konsep pertanian berkelanjutan yang mengutamakan keseimbangan ekosistem,” kata pria kelahiran 1973 itu.
Kesempatan untuk belajar lebih luas datang ketika ia tinggal di Jakarta dan mendalami pengelolaan sampah. Di sana, ia mempelajari proses daur ulang sampah organik dan anorganik, termasuk bagaimana sampah plastik dapat diolah kembali menjadi biji plastik serta bagaimana sampah organik dapat dijadikan pupuk.
Selain itu, pria berambut putih itu juga aktif mengedukasi masyarakat kota tentang pentingnya memilah sampah. Salah satu pendekatan yang ia gunakan adalah memberikan insentif berupa hasil panen kepada warga yang memilah sampah dengan benar.
“Kami berikan reward pada warga yang memilah sampah dengan baik. Tentu saat itu juga menyisipkan edukasi mengenai kesadaran akan kelestarian lingkungan dengan memilah sampah dengan baik dan benar,” lanjutnya.
Pada tahun 2011, Robby kembali ke Ngawi dengan membawa ilmu yang telah ia pelajari. Ia mulai menerapkan metode pertanian yang lebih alami dan minim bahan kimia. Salah satunya adalah berbudi daya tanaman dengan metode permakultur—menggabungkan berbagai jenis tanaman dalam satu lahan untuk menciptakan keseimbangan ekosistem.
Ia, misalnya, menanam bunga matahari di antara padi sebagai refugia, yang berfungsi menarik hama agar tidak menyerang tanaman utama. Selain itu, dalam budidaya cabai, ia memanfaatkan kacang tanah sebagai mulsa alami. Kacang tanah memiliki kemampuan menangkap nitrogen dari udara, sehingga tanaman cabai bisa tumbuh subur tanpa perlu tambahan pupuk kimia.
“Dan memang saat itu saya hanya fokus untuk menggarap lahan. Saya menerapkan metode menanam yang berbeda dengan petani lain. Saya hanya ingin mereka melihat sendiri hasil yang saya dapat, karena saya menghargai petani yang sudah berpengalaman di lahan selama bertahun-tahun,” katanya.
Menyebarkan Ilmu dan Menjadi Inspirasi

Awalnya, metode yang diterapkan Robby mendapat banyak cibiran karena dianggap tidak lazim. Namun, ia tetap teguh pada prinsipnya. Baginya, hasil nyata adalah bukti terbaik dari keberhasilan suatu metode. Seiring waktu, banyak petani yang mulai melihat manfaat dari cara bertani yang ia terapkan.
Pada tahun 2024, Robby bersama teman-temannya merintis Komunitas Ngawi Kreatif (KNK) berkolaborasi dengan P4S Birowo Organik Mantingan, P4S Bumi Lestari Ngrambe dan P4S Harapan Baru Katerban membuat program petani naik kelas. Secara berseries, ia memberi ruang para petani sebagai pakar untuk berbagi ilmu dan sharing.
Kini, Robby tidak hanya bertani tetapi juga aktif berbagi ilmu dengan petani lain. Ia mengajarkan cara membuat pupuk organik, mengelola limbah pertanian, dan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal.
“Bagi saya, ilmu yang saya miliki bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi harus dibagikan demi kebaikan bersama. Memang setiap hari harus berkeliling dan bertemu petani. Sharing bersama. Mengedukasi dengan cara yang memang tidak mudah, tapi bagaimana agar cara ini bisa diterima petani yang membutuhkan,” kata Robby.
Dia mengklaim jika dengan menggunakan fermentasi cair dan cara tanam yang ramah lingkungan memangkas biaya produksi sebanyak 50 persen. Selain itu, seiring perjalanan waktu penambahan kompos dalam pertanian juga akan mengembalikan kesuburan tanah.
“Kami mengedukasinya begitu ya. Jika penerapannya benar, biayanya bisa lebih hemat lagi. Dan kami mengedukasi petani ini setiap hari dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Bagaimana petani itu bisa sadar akan kebutuhan bertanam dengan cara yang ramah lingkungan. Hasil panennya juga bisa lebih baik, tanpa harus menggunakan bahan-bahan yang berpotensi merusak lingkungan,” katanya.
Pria yang juga aktif di Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Ngawi itu tak enggan turun langsung ke lahan mengedukasi para petani agar bertani yang lebih bijak.
Ketulusannya bahkan mendapatkan apresiasi dari Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono. Robby diganjar penghargaan sebagai Tokoh Inspiratif/Inovatif Penggerak Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan Kabupaten Ngawi. Penghargaan itu diberikan pada Oktober 2023 lalu.
Perjalanan Robby Mulyana dari seorang mahasiswa ekonomi hingga menjadi pelopor pertanian ramah lingkungan di Ngawi adalah bukti bahwa siapa pun bisa berkontribusi dalam menjaga keseimbangan alam. Dengan ketekunan, keberanian untuk berubah, dan semangat berbagi, ia telah membawa perubahan nyata bagi pertanian di Indonesia.
Komitmennya terhadap pertanian berkelanjutan tidak hanya memberi manfaat bagi petani, tetapi juga bagi lingkungan dan generasi mendatang. Robby Mulyana adalah contoh nyata bahwa bertani bukan hanya soal mencari penghidupan, tetapi juga tentang menjaga kelestarian alam demi masa depan yang lebih baik. [fiq/ian]






