Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa hari ini sedang viral viral terkait isu minyak goreng dengan merek Minyakita. Salah satunya karena takarannya yang dianggap tidak sesuai dengan apa yang ditulis di kemasan.
“Ini sih katanya gak sampai satu liter, tapi kita coba ajah ya. Harusnya sih satu liter ya, ada tulisannua soalnya. Ini kita cobak nih, ini juga gak ada yang gue potong (videonya), biarin ajah. Kira-kira dia beneran satu liter apa enggak?” ujar content creator (et) gerobakcuann, dalam akun Instagramnya.
Saat ditakar ke dalam gelas ukur tersebut, hasilnya benar-benar sesuai isu yang beredar, yakni tidak sampai satu liter. Melainkan hanya 800 mililiter.
Awalnya banyak orang yang pro dan kontra, tetapi content creator tersebut kembali membuktikan dengan cara lain. Ia kini mencoba membandingkan minyak goreng Minyakita dengan merek lain, Tropical.
Tanpa banyak bicara, ia mencoba menuangkan kedua minyak goreng satu liter ke dalam gelas ukur secara bersamaan. Hasilnya pun diketahui berbeda.
Minyak dengan merek Tropical telah sesuai dengan keterangan di kemasan, yakni satu liter. Sedangkan merek Minyakita bahkan kurang dari 800 mililiter.
Dilansir dari beritajatim.com, hasil dari pengecekan dari Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kabupaten Sumenep di beberapa pasar. Hasilnya menunjukkan bahwa kemasan pouch/refill memiliki ukuran sesuai dengan yang tertera yakni 1 liter, sedangkan kemasan botol bervariasi. Ada yang sesuai ukuran yakni 1 liter, tetapi ada juga yang kurang dari 1 liter.
Adapun di lain tempat, dalam inspensi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh Kasat Reskrim Polres Magetan, AKP Joko Santoso, menunjukkan adanya produk Minyakita di Magetan yang tidak sesuai standar.
Mulai dari harganya yang lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, juga ada kemungkinan berisi minyak goreng curah.
“Dimungkinkan Minyakita tersebut merupakan minyak goreng corah yang dikemasi,” ungkap Joko, Senin (10/3/2025).
Dugaan semakin kuat dengan fakta bahwa barcode pada kemasan tidak terdeteksi, yang mengindikasikan kemungkinan tidak adanya izin edar. “Dalam kemasan, tidak ada barcode ya. Kami menduga izin edar juga tidak ada,” imbuhnya. (fyi/ted)






