Bondowoso (bertajatim.com) – Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Bondowoso, Slamet Riyadi, menyoroti dampak teknologi sebagai salah satu faktor meningkatnya perilaku berisiko di kalangan pelajar, termasuk penyebaran HIV/AIDS.
“Pengaruh HP itu luar biasa. Sekolah hanya beberapa jam, selebihnya anak berada di luar. Kami melihat fenomena siswa kelas 10 sudah berpacaran dengan restu orang tua (menikah siri). Ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Slamet Riyadi, Selasa (4/3/2025).
Slamet juga menyoroti peran media sosial yang kerap menjadi wadah bagi remaja untuk berekspresi secara bebas tanpa batasan moral yang jelas. Menurutnya, platform seperti TikTok banyak digunakan secara tidak bijak oleh siswa, bahkan oleh sebagian guru.
“Kalau guru membuat konten edukatif, itu bagus. Tetapi jika mereka membuat konten nyeleneh, dampaknya luar biasa. Anak-anak akan meniru. Misalnya, seorang guru berjilbab saat mengajar, tapi melepas jilbab saat bermain TikTok demi menarik perhatian. Ini bisa menjadi contoh buruk bagi siswa,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pendidikan Jawa Timur telah mengeluarkan kebijakan revitalisasi gerakan Pramuka guna membentuk karakter siswa yang lebih tangguh dan mandiri. Di Bondowoso, program ini telah dijalankan sebagai upaya membendung dampak negatif digitalisasi.
“Melalui Pramuka, kita ingin membangun kemandirian dan karakter kuat pada siswa. Harapannya, mereka tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari lingkungan atau media sosial,” tambahnya.
Selain itu, Slamet juga menekankan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap siswa, termasuk dengan memeriksa isi gawai mereka. Namun, upaya ini kerap terbentur dengan aturan privasi.
“Dulu, saat saya jadi kepala sekolah di SMA Taruna Banyuwangi, saya pernah mengecek HP siswa dan menemukan banyak konten tidak pantas. Ini membuktikan bahwa konsumsi digital mereka sangat mengkhawatirkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kabupaten Bondowoso juga tengah menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni peningkatan kasus HIV/AIDS di kalangan remaja. Data terbaru dari Pokja TB dan HIV/AIDS Bondowoso mencatat bahwa dari 1.500 pengidap HIV/AIDS, 729 di antaranya berasal dari kelompok lelaki sesama lelaki (LSL).
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso, Anisatul Hamidah, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena ini. “Kami tidak boleh diam. Beberapa anak yang mengalami permasalahan bahkan sudah kami fasilitasi untuk bertemu dengan psikolog,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Dinsos P3AKB terus menggalakkan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Sekolah Madrasah Kependudukan. Program ini bertujuan memberikan edukasi kepada siswa mengenai pendewasaan usia perkawinan serta kesehatan reproduksi.
Ketua Pokja TB dan HIV Bondowoso, Funky Indraayu Shanti, juga menegaskan bahwa peningkatan kasus HIV di kalangan remaja harus menjadi perhatian semua pihak. “Tahun 2024 saja, ada penambahan kasus sekitar 84 hingga 92 orang, dan hampir 50 persen di antaranya berasal dari kelompok LSL,” ujarnya.
Menyikapi situasi ini, Komisi IV DPRD Bondowoso berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan berbagai pihak terkait guna mencari solusi atas permasalahan ini. Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso, Abdul Majid, menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu surat resmi dari Pokja TB HIV Bondowoso sebelum melaksanakan RDP.
“Kami ingin dalam RDP itu bisa menelusuri lebih dalam data HIV, sejauh mana penyebarannya, serta bagaimana pencegahan dan penanganannya ke depan,” katanya. [awi/suf]






