Surabaya (beritajatim.com) – Sribu, platform freelancer di Indonesia, berencana untuk memperluas jangkauannya ke pasar internasional dan mengembangkan layanan terintegrasi bagi para freelancer. Hal ini diungkapkan oleh Ryan Gondokusumo, CEO Sribu, dalam sebuah wawancara eksklusif.
“Hingga hari ini, kami telah menangani lebih dari 50.000 klien dan memiliki lebih dari 1,2 juta freelancer terkurasi,” ujar Ryan Gondokusumo.
Sribu menerapkan proses kurasi yang ketat bagi para freelancer yang ingin bergabung. Mereka harus membuat jasa, memasukkan portofolio, dan menjalani wawancara. Sribu juga berencana untuk meluncurkan fitur sertifikasi bagi para freelancer untuk meningkatkan kepercayaan klien.
“Proses durasi kami untuk freelancer itu lumayan dalam dan lumayan betul. Nanti sambil jalan freelancer ini kalau reviewnya makin banyak, kita lagi buat fitur di mana mereka juga bisa ngambil sertifikasi juga lewat kita,” jelas Ryan.
Selain itu, Sribu bertindak sebagai rekening bersama (escrow) untuk melindungi transaksi antara klien dan freelancer. Klien membayar ke Sribu terlebih dahulu, dan pembayaran baru diteruskan ke freelancer setelah pekerjaan selesai.
Sribu menawarkan berbagai layanan, mulai dari desain logo dan kemasan, pembuatan materi promosi, hingga pemasaran digital dan pembuatan website. Klien dapat memilih freelancer berdasarkan portofolio, ulasan, dan harga yang sesuai dengan anggaran mereka.
“Kami membantu mempersingkat klien kita untuk mencari sumber daya manusia lebih cepat. Banyak banget company yang pakai kita itu karena mereka mau carinya project,” kata Ryan.
Saat ini, Sribu fokus pada pasar domestik, terutama UKM dan perusahaan di sektor F&B, perhotelan, fashion, kosmetik, properti, dan otomotif. Namun, Sribu juga berencana untuk memperluas jangkauannya ke pasar internasional dengan tetap memberdayakan freelancer Indonesia.
“Tahun depan dapetin klien luar negeri tapi freelancernya tetap freelancer Indonesia,” ujar Ryan.
Selain memperluas pasar, Sribu juga berencana untuk mengembangkan platformnya menjadi infrastruktur terintegrasi bagi para freelancer. Nantinya, freelancer dapat menggunakan Sribu untuk berbagai kebutuhan, seperti pembayaran pulsa dan layanan lainnya.
“Kita pengen buat platformnya kita itu jadi freelancer infrastruktur. Maksudnya apa kalau sekarang mereka masuk ke 1000 untuk dapat kerjaan tapi ke depan freelancer itu kan pasti pakai laptop pakai HP mereka mau bayar eh apa namanya pulsa dan lain-lain kita tempelin tapi pelan-pelan,” jelas Ryan.
Sribu berkomitmen untuk memberikan keuntungan yang adil bagi para freelancer. Saat ini, Sribu mengambil 10% dari setiap transaksi, sedangkan 90% sisanya diberikan kepada freelancer.
“Kami pengen si freelancer loyal, market share keuntungan untuk freelancer 90 persen. Dan Sribu hanya mengambil 10 persen,” tegas Ryan.
Ryan memperkirakan jumlah freelancer di Indonesia mencapai 30 juta orang, di luar sektor pertanian dan perikanan. Sribu melihat potensi besar dalam pasar freelancer dan akan terus mengembangkan layanannya untuk mendukung pertumbuhan mereka.
“Kurang lebih populasinya kita kan sekarang 280 juta ya kalau populasi freelancer di Indonesia tuh kurang lebih 30 juta banyak,” tandas Ryan.[rea]






