Usai libur panjang imlek dan memasuki semester baru seluruh sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak hingga sekolah lanjutan atas di China mulai masuk dan memulai pembukaan semester tahun 2025.
Penulis sendiri pernah mengikuti trip perjalanan ke Guangzhou China Selatan pada Desember 2014 lalu bersama Pokja wartawan Pemkot Surabaya.
Penulis iseng membuka laporan Guangzhou Daily yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu. Koran yang berusia puluhan tahun dan mulai terbit sejak 1952, hingga kini masih bertahan namun sudah beradaptasi dengan teknologi.
Hari pertama masuk sekolah di China adalah sebuah festival. Di beberapa sekolah dasar di Guangzhou, anak-anak disambut oleh robot humanoid yang memberikan salam saat datang ke sekolah dan mobil terbang yang melayang di udara sebagai simbol kemajuan teknologi tulis laporan Guangzhou Daily dalam liputannya pekan lalu.
Lihat postingan ini di Instagram
Tidak hanya sekadar seremoni, momen ini adalah cerminan dari arah pendidikan China yang tak sekadar membekali siswa dengan pengetahuan, tetapi juga membangun imajinasi dan kesiapan menghadapi masa depan.
Sementara itu, di Indonesia, hari pertama sekolah diwarnai dengan program makan bergizi gratis (MBG). Sebuah langkah mulia dari pemerintah Prabowo-Gibran yang bertujuan membangun generasi emas 2045 melalui pemenuhan nutrisi.

Dua negara, dua prioritas, dua filosofi pendidikan yang berbeda. Lalu, mana yang lebih baik? Atau, bisakah keduanya berjalan beriringan?
Fondasi Pendidikan: Moral dan Teknologi vs Kesejahteraan Dasar
China, yang telah menjelma menjadi negara maju, mengusung konsep pendidikan yang berlandaskan enam pilar utama: moralitas, intelektual, jasmani, estetika, kerja keras, dan keselamatan.
Pendidikan moral menjadi pijakan utama, sementara kecerdasan diasah melalui paparan teknologi yang langsung dapat disentuh dan dirasakan.
Anak-anak sejak dini sudah diperkenalkan dengan revolusi industri terbaru, seolah berkata: inilah dunia yang akan kalian hadapi.
Indonesia, di sisi lain, masih berjibaku dengan kebutuhan mendasar. Program makan bergizi gratis adalah cerminan dari kenyataan bahwa banyak siswa di negeri ini masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Tanpa perut yang kenyang, sulit bagi seorang anak untuk berkonsentrasi di kelas. Pemerintah memahami bahwa sebelum bicara tentang inovasi, fondasi harus kokoh terlebih dahulu. Namun, apakah kita punya cukup waktu untuk hanya membangun fondasi ketika dunia bergerak begitu cepat?
Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan
Perbedaan pendekatan ini sejatinya adalah perbedaan cara pandang terhadap pendidikan sebagai investasi masa depan.
China, dengan ekonomi yang telah matang, berani berinvestasi dalam teknologi dan inovasi di sektor pendidikan. Mereka tidak hanya mengajarkan matematika dan sains, tetapi juga membiasakan anak-anak untuk hidup berdampingan dengan AI dan transportasi futuristik.
Indonesia masih berada dalam tahap membangun manusia yang sehat dan bebas dari hambatan sosial-ekonomi.
Langkah ini tentu krusial, karena tanpa kesehatan dan kesejahteraan dasar, mustahil bagi seorang anak untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, pertanyaannya adalah: kapan kita mulai melangkah ke tahap berikutnya?
China menunjukkan bahwa pendidikan harus selangkah lebih maju dari realitas, sementara Indonesia sedang mengejar agar pendidikan bisa menjadi alat untuk mengentaskan kesenjangan. Barangkali, masa depan pendidikan Indonesia adalah mengadopsi dua pendekatan ini secara bersamaan.
Program makan bergizi gratis harus terus berjalan untuk memastikan anak-anak Indonesia sehat dan siap belajar.
Namun, di saat yang sama, sistem pendidikan harus mulai berani melangkah ke era teknologi. Bayangkan jika sekolah-sekolah kita mulai memperkenalkan robotika dan AI sejak dini, atau jika sekolah-sekolah di pelosok bisa menikmati fasilitas digital seperti yang telah lama dinikmati sekolah-sekolah unggulan di perkotaan.
China mungkin sedang berlari ke masa depan dengan teknologi, sementara Indonesia sedang membangun landasan agar anak-anak bisa berdiri kokoh.
Namun, jika ingin benar-benar mencapai emas 2045, kita harus mulai berani melangkah lebih jauh. Bukan hanya membangun generasi yang sehat, tetapi juga generasi yang siap menghadapi dunia yang terus berubah dengan cepat. (ted)






