Jakarta (beritajatim.com) – Boikot terhadap McDonald’s, jaringan restoran cepat saji asal Amerika Serikat, terus mengguncang kinerja keuangan perusahaan dan mitra waralabanya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Laporan media internasional per Oktober 2024 mengungkapkan bahwa penjualan McDonald’s mengalami penurunan tajam selama dua kuartal berturut-turut, dengan penurunan terparah sejak krisis Covid-19 pada 2020.
Gerakan boikot ini dipicu oleh tuduhan bahwa McDonald’s memiliki hubungan bisnis erat dengan Israel, yang dianggap mendukung agresi terhadap Gaza. Selain McDonald’s, sejumlah perusahaan multinasional lain, seperti Starbucks, Coca Cola, Unilever, Danone, dan KFC, juga menjadi sasaran gerakan protes global ini.
Menurut BDS Indonesia, bagian dari gerakan global Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS), McDonald’s menjadi target utama boikot karena menyediakan layanan untuk militer Israel, yang disebut berkontribusi terhadap genosida di Gaza.
“Ini mendukung agresi dan genosida terhadap lebih dari 45.000 penduduk sipil sejak Oktober 2023,” ungkap BDS Indonesia dalam pernyataan di platform media sosial X (dulu Twitter).
Selain itu, McDonald’s diketahui memiliki investasi besar di Israel. Berdasarkan laporan The Independent (29/10), McDonald’s mengoperasikan 225 restoran di Israel, dengan total 5.000 karyawan. Restoran-restoran tersebut sebelumnya dikelola oleh kongsi bisnis Israel sebelum dibeli kembali oleh McDonald’s.
Di Indonesia, gerakan boikot ini turut berdampak pada Rekso Group, pemilik lisensi McDonald’s Indonesia dan produsen minuman ikonik seperti Teh Botol Sosro. Beberapa gerai McDonald’s di Indonesia dilaporkan tutup akibat penurunan penjualan.
Penurunan kinerja ini juga memengaruhi langkah strategis Rekso Group, termasuk keputusan untuk menggabungkan dua anak usahanya, PT Sinar Sosro dan PT Sinar Sosro Gunung Slamat. Menurut laporan Agrifood.id (17/10/2024), merger ini direncanakan rampung setelah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 November 2024.
“Seluruh aset dan liabilitas Sinar Sosro akan dialihkan ke Sinar Sosro Gunung Slamat, dan Sinar Sosro akan bubar tanpa likuidasi,” ungkap laporan tersebut.
Namun, langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang nasib karyawan kedua perusahaan. Laporan hanya menyebutkan bahwa karyawan diberi opsi untuk bergabung dengan entitas baru atau menerima hak sesuai peraturan yang berlaku.
Sebagai bagian dari Rekso Group, produk minuman seperti Teh Botol Sosro kerap ditawarkan dalam menu bundling di gerai McDonald’s. Namun, perubahan pola konsumsi masyarakat yang menjauhi McDonald’s sebagai bentuk protes atas agresi Israel ikut memengaruhi penjualan produk tersebut.
Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari serikat pekerja maupun Rekso Group terkait dampak boikot global terhadap bisnis mereka. Namun, situasi ini mencerminkan pengaruh besar gerakan protes terhadap perusahaan multinasional dan mitra bisnis lokalnya. [beq]






