Ponorogo (beritajatim.com) – Hujan deras yang melanda sejumlah wilayah di Bumi Reog dalam beberapa hari terakhir menimbulkan kerusakan pada tanaman tembakau di Kecamatan Balong, Ponorogo. Akibatnya, puluhan hektare tanaman tembakau terancam mengalami gagal panen. Petani tembakau di sana pun terpaksa melakukan panen lebih awal, untuk meminimalkan kerugian.
Di Desa Muneng dan Desa Tatung, kondisi tanaman tembakau yang sebelumnya berusia tiga bulan dan hampir memasuki masa panen, kini rusak pasca hujan mengguyur di wilayah tersebut. Hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir, menyebabkan daun menguning, layu, dan pohon tembakau roboh karena sawah terendam air.
“Kondisi cuaca akhir-akhir ini yang sering hujan, sangat merugikan petani tembakau,” ungkap Sunyoto, salah satu petani tembakau dari Desa Muneng Kecamatan Balong, Selasa (26/11/2024).
Jika cuaca mendukung, hasil panen dari satu kotak sawah bisa menghasilkan pendapatan hingga Rp20 juta. Namun, akibat hujan yang terus-menerus, kualitas daun tembakau menurun drastis, sehingga untuk mencapai Rp3 juta saja pun terasa sulit.
“Ya ini kondisinya mati karena kebanjiran. Sedapatnya dipanen, ya itung-iting menutup biaya pupuk dan operasional. Kalau dibiarkan ya bisa semakin rugi,” katanya.
Kepala Desa Tatung, Rudi Sugiarto, mengungkapkan bahwa dari total 120 hektar lahan tembakau di desa tersebut, diperkirakan ada 60 hektare yang terancam gagal panen. Kerusakan ini diperkirakan menyebabkan kerugian mencapai miliaran rupiah. Meski begitu, petani tetap berusaha memanen tembakau yang masih bisa diselamatkan, meskipun kapasitas pengeringan sangat terbatas.
“Curah hujan tinggi, membuat banyak lahan tembakau yang terendam air. Ya petani terpaksa panen lebih awal, dengan resiko hasil panen yang tidak optimal,” kata Rudi.
Kerusakan akibat genangan air ini, membuat petani tidak memiliki pilihan lain selain pasrah. Tanaman tembakau yang biasanya menjadi andalan untuk mendongkrak perekonomian keluarga, kini justru menjadi sumber kerugian besar.
“Ya ini sebuah kerugian yang dialami oleh petani tembakau,” tutup Rudi. [end/beq]






