Jakarta (beritajatim.com)- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan signifikan pada jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia. Pada tahun 2019, kelompok ini masih mencakup 21,45 persen dari total penduduk. Namun, pada tahun 2024, persentasenya turun menjadi 17,13 persen. Banyak dari mereka turun kelas menjadi kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class, yang berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.
Pada 2019, jumlah kelompok calon kelas menengah tercatat sebesar 128,85 juta, dan angka ini naik menjadi 13,75 juta pada tahun 2024. Sejalan dengan itu, kelompok rentan miskin juga mengalami peningkatan, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada tahun 2024.
Pengamat Ekonomi, Jaenal Effendi, menilai bahwa salah satu faktor utama penyebab penurunan ekonomi kelas menengah adalah meningkatnya jumlah angkatan kerja baru yang tidak diimbangi dengan pembukaan lapangan pekerjaan.
“Setiap tahun, jumlah angkatan kerja terus naik, namun lapangan kerja formal yang tersedia tidak cukup, yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah,” ujar Jaenal melansir portal resmi Nahdlatul Ulama Jumat (13/9/2024).
Jaenal menambahkan bahwa kerja sama antara pemerintah dan para pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja baru, khususnya di sektor formal seperti industri. Namun, dampak pascapandemi Covid-19 masih terasa, dengan banyak perusahaan yang terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau bahkan menutup operasinya.
“Meskipun pandemi sudah berakhir, efek pascapandemi masih dirasakan oleh banyak perusahaan yang mengalami PHK massal karena minimnya investor, baik dari dalam maupun luar negeri, akibat kebijakan pemerintah yang tidak mendukung sektor swasta,” ujar Jaenal, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Menurut Jaenal, pekerja yang terdampak PHK umumnya berasal dari kelas menengah, sehingga penurunan status ekonomi mereka menjadi kelompok calon kelas menengah sangat mungkin terjadi. Hal ini memaksa banyak dari mereka untuk beralih ke pekerjaan informal, seperti pekerja paruh waktu, pedagang keliling, dan tukang ojek.
Dengan adanya fenomena penurunan ekonomi kelas menengah ini, Jaenal berharap pemerintah dapat mengevaluasi kembali program-programnya. “Pemerintah harus memprioritaskan program yang bisa menciptakan lapangan kerja baru agar ekonomi kelas menengah bisa kembali tumbuh,” tutupnya.






