Mojokerto (beritajatim.com) – Kabupaten Mojokerto mencatat inflasi sebesar 0,13 persen pada Agustus 2024, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan dengan bulan Juli yang hanya sebesar 0,01 persen. Dua komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi terbesar kali ini adalah Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dan telur asin.
Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi, terutama jenis Pertamax dan Solar, berperan besar dalam mendorong kenaikan inflasi. Kenaikan harga BBM ini berdampak langsung pada peningkatan biaya distribusi dan produksi berbagai barang dan jasa.
Di sisi lain, kenaikan harga telur asin, yang merupakan komoditas pangan pokok, juga memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi di bulan Agustus 2024.
Menurut Kepala Bappeda Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi, kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Solar telah memicu lonjakan biaya transportasi dan distribusi, yang berimbas pada harga-harga komoditas lainnya.
“Kenaikan harga BBM non subsidi dapat memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi, sehingga berdampak pada meningkatnya harga di beberapa sektor perekonomian,” ungkap Bambang, Sabtu (7/9/2024).
Kenaikan harga BBM ini tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga mempengaruhi biaya operasional di berbagai industri, mulai dari manufaktur hingga pertanian. Hal ini menambah beban bagi para pelaku usaha dan konsumen di Mojokerto.
Selain BBM non subsidi, telur asin menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar kedua di Kabupaten Mojokerto. Kenaikan harga telur asin dianggap cukup mengejutkan, mengingat komoditas ini merupakan bahan pangan yang sering dikonsumsi masyarakat.
“Harga telur asin mengalami kenaikan signifikan pada bulan ini, dan karena banyak dikonsumsi oleh masyarakat, dampaknya langsung terasa di pasar,” kata Bambang.
Telur asin, yang biasanya dianggap sebagai sumber protein yang terjangkau, kini menjadi lebih mahal. Hal ini dipicu oleh meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga pakan ternak dan faktor distribusi yang terpengaruh oleh kenaikan harga BBM.
Tidak hanya BBM non subsidi dan telur asin, beberapa komoditas lain juga berkontribusi pada inflasi di Mojokerto, seperti tempe, beras, emas perhiasan, cabai rawit, kentang, lele, dan daging ayam kampung. Meski begitu, sejumlah komoditas lain justru mengalami penurunan harga, seperti bawang merah, daging ayam ras, tomat sayur, telur ayam ras, bandeng, wortel, bawang putih, daging sapi, udang basah, dan tepung terigu.
Bawang merah, khususnya, menjadi komoditas penyumbang deflasi tertinggi pada Agustus 2024, berkat penurunan harga yang signifikan setelah panen raya di sentra produksi.
Secara keseluruhan, inflasi kumulatif dari Januari hingga Agustus 2024 mencapai 1,40 persen, sementara inflasi year-on-year (YoY) dari Agustus 2023 hingga Agustus 2024 tercatat sebesar 2,32 persen.
Dengan kenaikan harga BBM non subsidi dan telur asin yang menjadi pendorong utama inflasi bulan ini, masyarakat dan pelaku usaha di Mojokerto harus lebih waspada menghadapi kenaikan biaya hidup. [tin/beq]






