Bondowoso (beritajatim.com) – Harga jual tembakau jenis voor oogst kasturi di Kabupaten Bondowoso cukup tinggi pada tahun 2024 ini. Sayangnya, petani justru belum cukup untung.
Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga jual itu juga diiringi naiknya biaya produksi. Sehingga margin keuntungan yang didapat petani tidak tinggi.
Satrawi, petani tembakau asal Dusun Krajan, Desa Mengen, Kecamatan Tamanan mengakui hal itu.
“Memang harganya cukup tinggi di kisaran Rp60 ribu per kilogram. Tapi biaya produksi juga ikut naik. Tidak sama dengan tahun lalu,” kata Satrawi kepada beritajatim.com, Kamis (5/9/2024).
Ia menyebutkan beberapa contohnya. Seperti upah tenaga kerja yang naik dari sebelumnya Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu per setengah hari.
“Belum lagi biaya kita juga menyediakan sarapan, kopi dan rokoknya. Harga sembako dan rokok tahun ini lebih mahal dari tahun lalu,” ungkapnya.
Di sisi lain, masa pengolahan tembakau kasturi pasca panen memerlukan waktu yang cukup lama.
“Pemilahan daun 3 hari dan penjemuran 7 hari. Jadi setelah panen, petani baru mendapatkan hasil penjualan paling cepat 10 hari kemudian. Itu kalau cuaca bagus,” akunya.
Satrawi tahun ini menggarap 1,5 hektar lahan yang ditanami 25 ribu pohon tembakau.
“Perkiraan nanti itu bisa jadi 1,5 ton tembakau kering. Asalkan cuaca bersahabat,” harapnya.
Zubairi, petani lainnya senada dengan Satrawi. Menurutnya, harga jual tembakau yang bagus tidak membuat petani untung besar.
“Dibilang murah, ya gak murah. Tapi dibanding biaya produksi dan biaya tanam, petani kurang beruntung,” akunya.
Ia menyebut, harga jual tembakau kasturi tertinggi tahun ini mencapai Rp65 ribu per kilogram.
“Sedangkan biaya produksi kisaran Rp35 ribu – Rp40 ribu per kilogram,” terang Zubairi.
Setiap hektar, kata Zubairi, bisa ditanami antara 12 ribu – 15 ribu pohon tembakau kasturi dengan estimasi produksi 1 ton.
“Untuk pemasaran, kami kirim ke Gudang Garam, Djarum dan Sampoerna,” sebutnya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, Ahmad Yasid menyatakan, petani mengurangi menanam varietas lokal Maesan tahun ini dan beralih ke kasturi.
“Tahun ini posisi varietas tembakau yang ditanam petani yaitu 50 persen Maesan dan 50 persen kasturi,” ungkap Yasid kepada beritajatim.com, Jumat (19/7/2024) lalu.
Komposisi penananam varietas tembakau tahun 2024 pun berbeda dengan tahun 2023 lalu.
“Tahun sebelumnya itu 70 persen varietas maesan dan 30 persen kasturi,” sebut pria yang juga Sekretaris APTI Jawa Timur tersebut.
Warga Desa Pekalangan, Kecamatan Tenggarang ini juga menyebut harga jual varietas kasturi yang cukup menggiurkan.
“Harga tahun 2023 untuk kasturi rata-rata Rp60 ribu per kilogram. Sedangkan untuk rajang Rp55 ribu per kilogram,” sebut Yasid. [awi/beq]






