Magetan (beritajatim.com) – Dua bocah tenggelam di Sumber Jamban di pinggir Jalan Raya Magetan -Ngiliran, Desa Ngiliran, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan pada Selasa, 3 September 2024. Satu di antaranya meninggal dunia.
Keduanya ditemukan saat sudah mengambang usai berenang bersama di kolam yang rencananya dibuka untuk tempat wisata oleh pemdes setempat itu.
“Saya di kebun itu diteriaki istri, katanya ada suara anak bermain di Sumber Jamban. Terus selang sejam kemudian tidak ada suaranya. Saya suruh ngecek. Pas saya datangi ke sini, ternyata dua anak ini sudah mengambang. Saya panggil warga sekitar, untuk bantu evakuasi,” terang Suparman, warga yang tinggal dekat lokasi.
“Waktu sudah dipinggirkan. Satu sudah meninggal dunia. Yang satu masih bisa batuk. Kemudian kami bawa ke Puskesmas Panekan. Keduanya warga sini,” lanjut Suparman.
Kedua bocah itu adalah SFA (7) putra dari Daenuri (36) dan Wahyu Nurdiati (33), serta RM (8) putra dari Sumarno dna Siti Dwi Nuryani. Keduanya merupakan warga Desa Ngiliran Kecamatan Panekan. Keduanya tenggelam di kolam sedalam 130 cm itu.
“Kami Polsek Panekan meneria laporan pukul 14.00 WIB dari perangkat Desa Ngiliran, bahwa ada anak tenggelam di Sumber Jamban. Korban atas nama SFA dan RM, usia 7 dan 8 tahun. Korban atas nama SFA sudah meninggal dunia ketika ditemukan. Kemudian, untuk korban RM ini kemudian diberi pertolongan di Puskesmas Panekan. Kemudian dirujuk e RSUD dr Sayidiman. Kondisinya sekarang stabil dan membaik,” kata Kapolsek Panekan, AKP Iin Pelangi.
Pelangi mengatakan, pihak Pemdes setempat sebelumnya sudah sempat melarang siapapun untuk berenang di kolam Sumber Jamban. Namun, karena belakangan kolam itu tengah direhab untuk wisata, papan larangan tidak terpasang.
“Dulu sempat dilarang ya. Tapi karena direhab ini kayaknya papan larangan tidak terpasang. Akhirnya dipakai berenang. Setiap sore anak-anak banyak yang berenang di sini ya. Dan dua korban ini sebenarnya bisa berenang. Masih kami dalami kenapa dua anak ini bisa tenggelam. Kedalamannya sekitar 130 cm sampai 110 cm, ada juga yang 50 cm. INi masih rehab, katanya mau dijadikan kolam renang, ini masih dalam proses pengerjaan,” kata Pelangi.
Kepala Desa Ngiliran Karmo mengatakan jika Sumber Jamban dibangun untuk wisata. Saat ini pembangunan maish berhenti di progres 25 persen karena keterbatasan anggaran. Sebelum kejadian pihaknya sudah berencana memasang papan larangan berenang.
“Dulu kan sudah dilarang berenang. Dan papan larangan segera kami pasang lagi setealh rehab ini istirahat. Setelah ini tentunya kami menganggap kejadina ini sebagai pelajaran. Tentu untuk keamanan akan kami perketat. Selama proses pengerjaan maupun nani ketika sudah jadi tempat wisata,” terang Karmo. [fiq/beq]






