Magetan (beritajatim.com) – Petani tembakau di Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan tengah dilanda dilema di musim panen raya tahun ini. Kualitas hasil panen tembakau cukup memuaskan namun di sisi lain mereka harus berhadapan dengan jatuhnya harga jual.
Curah hujan yang cukup selama masa pertumbuhan tanaman dinilai sangat membantu penyerapan pupuk dan meningkatkan kualitas daun tembakau. Namun, di balik keberhasilan tersebut, para petani juga menghadapi sejumlah tantangan.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Magetan, Siswanto, mengungkapkan harga jual tembakau tahun ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun produksi meningkat, harga daun basah hanya berkisar Rp4.000 hingga Rp5.500 per kilogram tergantung kualitasnya.
Untuk meningkatkan nilai jual, banyak petani yang mengolah tembakau menjadi rajangan halus. Selain itu, sistem kemitraan dengan perusahaan juga menjadi pilihan bagi sebagian petani.
Sistem ini menjamin harga yang lebih stabil, namun kualitas tembakau harus memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan.
Tantangan lain yang dihadapi petani adalah cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya fenomena La Nina pada bulan Oktober yang akan menyebabkan peningkatan curah hujan. Oleh karena itu, para petani berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan panen sebelum musim hujan tiba untuk menghindari kerugian akibat kerusakan tanaman.
Siswanto berharap panen tembakau dapat selesai seluruhnya pada akhir September. “Jika panen molor hingga Oktober, kualitas tembakau bisa terpengaruh karena faktor cuaca seperti kelembapan, suhu, dan intensitas cahaya matahari,” ujarnya, Kamis, 29 Agustus 2024.
Musim panen raya tanaman tembakau saat ini tidak hanya membawa keberkahan bagi para petani yang menanamnya. Namun juga bagi banyak emak- emak yang ada di sekitar daerah petani menanam tembakau. Akibat panen raya mereka memiliki pekerjaan musiman, yakni mengikat daun tembakau basah yang sudah dipanen dari sawah untuk dijual oleh petani.
“Alhamdulillah ada pekerjaan, bisa mengikat daun tembakau. Setiap hari bisa mengikat daun tembakau basah itu bisa sampai 2,5 ton bersama ibu- ibu lainnya. Dari pekerjaan ini, upahnya udah banyak tanpa harus berpanas- panas.
“Ukuran satu ton daun tembakau basah yang kami ikat, kami dibayar Rp200 ribu,” kata Marsi, warga setempat. [fiq/beq]






