Magetan (beritajatim.com) – Ratusan warga Magetan terjangkit demam berdarah dengue (DBD) selama tujuh bulan terakhir di tahun 2024. Bahkan, saat musim kemarau ini masih ada dua orang pasien DBD yang masih menjalani pemulihan di fasilitas kesehatan di Magetan.
Agus Yudi Purnomo Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan mengonfirmasi jika kemungkinan penularan DBD pada musim kemarau masih ada.
”Sampai akhir Juli DBD total 492, bulan Juli saja 36 kasus turun dibanding kasus bulan Juni 78 kasus, tidak ada yang meninggal karena DBD di bulan Juni -Juli 2024. Laporan terakhir per 2 Agustus 2024 ini, masih ada yang dirawat dua pasien DBD di salah satu faskes di Magetan,” terang Agus, Jumat (02/08/2024)
Meskipun musim kemarau, Agus meminta masyarakat agar tidak lengah karena virus dengue ada di sekitar masyarakat. Apalagi jika sudah mulai turun hujan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus terus dilakukan. Dia mengingatkan, tahun 2025 jadi siklus tiga tahunan, dimana kemungkinan kasus biasanya meroket.
”Pola penularan DBD cenderung landai bulan Mei-September dan Oktober – Pebruari akan cenderung naik maka masyarakat harus terus meningkatkan upaya pengendalian populasi nyamuk saat memasuki musim hujan. Apalagi tahun depan (2025) menurut data merupakan siklus tiga tahunan kemungkinan kasus akan meroket tinggi jika masyarakat tidak melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” lanjut Agus.
Menurutnya masyarakat harus tahu terkait mitos soal DBD. Mitos pertama DBD disebabkan oleh nyamuk, padahal faktanya DBD disebabkan oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk aedes. Mitos kedua jentik aides hanya hidup di air bersih faktanya jentik Aedes dapat hidup di penampungan air yang dindingnya tidak langsung bersentuhan dengan tanah.
”Mitos ketiga fogging adalah satu-satunya cara mencegah DBD faktanya melakukan PSM 3M plus merupakan upaya pencegahan paling aman murah dan mudah adalah PSN 3M plus. Kami harap masyarakat terus melakukan upaya pencegahan,” pungkas Agus. [kun]






