Jember (beritajatim.com) – Nur Widodo, Ketua Program Studi Peternakan Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, membagikan tips memilih hewan kurban. Jangan terkecoh dengan besar perut sapi.
“Syarat utama memilih hewan kurban adalah sehat, gemuk, tidak cacat fisik, dan telah cukup umur. Jika tidak memenuhi persaratan itu, maka tidak dibenarkan ternak itu menjadi hewan kurban,” kata Widodo, sebagaimana dilansir Humas Unej, Kamis (13/6/2024).
Hewan kurban sebaiknya berkelamin jantan. Jika hewan betina, menurut Widodo, harus dipastikan tidak dalam keadaan bunting. Ternak itu juga harus aman dari penyakit mulut dan kuku (PMK) dan lumpy skin disease (LSD), kecuali sudah sembuh.
Kesehatan ternak bisa dideteksi dari sorot mata yang tidak sayu dan gerakan yang aktif. Usia hewan kurban minimal dua tahun, dan ini bisa dilihat dari struktur gigi serinya. “Bila gigi sapi masih gigi susu dan belum ada yang ganti (poel) bisa dipastikan sapi tersebut masih berumur di bawah dua tahun,” kata Widodo.
Gigi sapi berganti satu pasang pada usia dua atau tiga tahun, dua pasang pada usia tiga sampai empat tahun, tiga pasang pada usia empat sampai lima tahun, dan jika empat pasang maka berusia lebih dari lima tahun.
“Jangan terkecoh dengan besar perut sapi, akibat penilaian yang dilakukan hanya dari sisi depan dan samping ternak saja,” kata Widodo. Memilih sapi tak hanya bergantung pada pengelihatan, tapi juga rabaan pada bagian paha, pinggul, punggung, dan paha kaki depan untuk memastikan keberadaan daging.
“Fokus penilaian ternak pada bagian paha belakang, pinggul, paha kaki depan, dan punggung. Daging itu yang pertama bisa dilihat dari pinggul dan bagian paha belakang. Berikutnya dari punggung dan paha kaki depan. Perhatikan tulang pinggul, punggung, dan rusuk. Jika tulang-tulang tersebut tidak terlihat maka bisa dikatakan sapi tersebut gemuk dan memiliki banyak daging,” kata Widodo. [wir]






