Surabaya (beritajatim.com) – Fakhri Husaini, mantan pelatih timnas Indonesia U16 menegaskan jika ASBWI atau Asosiasi Sepak Bola Wanita harus segera menggelar adanya kompetisi liga 1, pasalnya adanya pembentukan timnas Indonesia putri ini tidak luput dari pembentukan pemain yang dimulai dari skala bawah yakni dari kompetisi dari federasi seperti macam Elite Pro Akademi hingga Piala Pertiwi.
Diakui mantan Persela Lamongan ini, federasi berjalan dengan tantangan baru dengan pembentukan untuk sepak bola wanita ini, karena hal ini bentuk dari para scotting bisa memilih pemain dari kompetisi liga untuk masuk ke skuad timnas.
Jika tidak ada kompetisi liga 1 bagi sepak bola wanita bagaimana bisa Indonesia memiliki kualitas pemain putri yang harus bertanding hingga level AFF, AFC hingga piala dunia.
“Ini kan sebuah tantangan buat pengurus Asbwi karena saat ini timnas Indonesia putri sudah mengikuti kejuaraan internasional, tentu seharusnya mulai saat ini harus menyiapkan pemain yang berkualitas. Jika liga tidak berjalan bagaimana bisa memilih pemain yang berkualitas untuk menjadi skuad yang bagus,” ungkapnya.
Dikatakan saat ini para skuad timnas Indonesia semua tidak mengetahui bagaimana tim scoting memilih mereka untuk menjadi bagian dalam tim, karena jika melihat di Indonesia sejak kejadian tragedi kanjuruhan sampai saat ini kompetisi sepak bola wanita masih belum di gelar hal ini tentu menjadi sebuah masalah baru.
“Yang menjadi pertanyaan adalah ketika tiba-tiba terbentuk timnas putri ini adalah darimana para pemain, saya yakin pelatih sebagus apapun tentu akan kesulitan karena sumber pemain yang diberikan ini tidka berasal dari kompetisi yang dikelola dengan baiik atau bahasanya dia akan kesusakan untuk mengajari bagaimana teknik dan taktik dasar di timnas karena mereka tidak melewati fase berkompetisi satu sama lain,’ imbuhnya.
Seharusnya saat ini yang harus dilakukan olehtim scotting talent adalah mencari para pemain dari beberapa kompetisi swasta, jika memang liga resmi masih belum bisa bergulir pada musim ini. Mereka bisa berkolaborasi dengan federasi setempat untuk berkolaborasi dengan SSB yang sudah terafiliasi untuk memantau perkembangan sepak bola wanita di wilayahnya.
“Seharusnya mereka saat ini bisa mencari bibit muda sespak bola putri denga mudah, jika tidak ada kompetisi resmi mereka bisa bekerja sama dengan federasi dengan melihat ssb yang menangui pesepak bola putri ini mengikuti kompetisi tingkat apa dari situ mereka bisa memilih dan melihat potensi yang ada,” tututpnya. (ted)






