Jember (beritajatim.com – Mayoritas pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, masih sulit naik kelas. Persoalan finansial jadi hambatan untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar secara berkesinambungan.
Pemerintah Kabupaten Jember sudah berusaha mendongkrak kualitas UMKM di tengah pasang surutnya perekonomian di Indonesia. “Namun kita mau menaikkan kelas UMKM tidak sembarangan, kecuali mereka sudah punya link off-taker yang rutin membeli atau kontinyu,” kata Bupati Hendy Siswanto, Selasa (4/6/2024).
“Konsep naik kelas adalah bila UMKM punyan produk dibeli secara kontinyu, misalkan kontrak setahun terus-menerus dengan harga yang sudah ditetapkan. Tapi kalau kontrak putus, ini berbahaya. Apalagi produk makanan yang dibayar tidak langsung on time tiap bulan atau pembeliannya dalam bentuk konsinyasi,” kata Hendy.
“Konsinyasi ini sangat berat. Meskipun off taker banyak tapi konsinyasi, barang dikembalikan kalau tidak laku,”: jelas Hendy.
Menurut Hendy, tidak semua pelaku UMKM di Jember memiliki kemampuan kontinyuitas produksi. Bahkan status mereka bisa berubah dalam hitungan bulan karena persoalan finansial. “Bulan ini mereka bukan kategori pelaku usaha mikro, tapi bulan depan atau tiga bulan lagi mereka bisa masuk kategori mikro lagi,” katanya.
Pemkab Jember tak mau tinggal diam. “Tentunya yang harus kami lakukan terhadap teman-teman UMKM adalah melengkapi seluruh legalitas yang harus diniliki, mulai dari NIB (Nomor Unduk Berusaha), sertifikat PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), sertifikasi halal,” kata Hendy.
“Kalau ngomong branding, teman-teman tidak perlu diragukan lagi. Brandingnya bagus-bagus semua. Kemudian kita melakukan kerja sama dengan off taker,” kata Hendy.
Hendy dan jajaran Pemkab Jember sempat melakukan studi tiru di Bali tempo hari. “Dinas Koperasi dan UMKM melakukan kerja sama dengan Krisna. Krisna mengambil 14 produk kita, dikirim ke Krisna Bali,” katanya.
“Cuma saya ngomong ke Dinas Koperasi agar berhati-hati. Kita sudah mau tanda tangan untuk produk, yang dicek lebih dulu adalah cara pembayarannya. Kalau pembayarannya kontinyu, yang perlu kita cek adalah kita dulu. Kira-,kira produk kita bisa dikirim kontinyu gak? Kualitasnya bagaimana? Jangan sampai turun, karena kalau turun tidak akan dibayar utang-utangnya,” kata Hendy.
“Saya akan mengawinkan, berkolaborasi, bersinergi dengan perusahaan-perusahaan yang lain, seperti koperasi pasar di Klungkung. “Mereka akan mengambil produk-produk kita, tapi saya ingatkan, di samping legalnya ada semua, mereka (UMKM Jember) harus ada produk kontinyunya Termasuk kekuatan modal kalau dibayar tidak lamgsung,” kata Hendy. [wir]






