Surabaya (beritajatim.com)- BEM FISIP Unair menggelar acara “FISIP Green Society: Festival Lingkungan Hidup” yang berfokus pada isu perubahan iklim dan pengungsi.
Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dari berbagai universitas dan organisasi seperti Green Leaders Indonesia (GLI) Surabaya, Gusdurian Surabaya, International Organisation for Migration (IOM), dan Partai Hijau Indonesia (PHI).
“Lingkungan tidak bisa dipisahkan dengan masalah kemanusiaan,” tegas perwakilam GLI Surabaya, Gaby dalam talkshow yang membahas dampak perubahan iklim terhadap pengungsi di Aula Soetandyo, Fisip Universitas Airlangga, Jumat (31/5/2024).
Ia menekankan pentingnya sikap toleransi, cinta alam, dan keaktifan generasi muda dalam memahami dan merespons isu ini.
Presiden BEM FISIP Unair, Tuffahati Ullayyah, menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah Indonesia.
“Pemerintah mulai detik ini harus segera mereformasi sikapnya. Karena yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini betul-betul mencerminkan rasa tidak takut pada situasi global boiling yang tengah terjadi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penggundulan hutan dan terkikisnya lahan gambut sebagai “dosa antar-generasi” yang harus dihentikan.
Acara ini juga memberikan ruang bagi para pengungsi dari Somalia, Sudan, dan Myanmar untuk berbagi pengalaman mereka. Salah satu pengungsi menceritakan perlakuan tidak manusiawi yang dialami di negara asalnya dan stigma buruk yang masih dihadapi di negara pengungsian.
Gaby dan Rakhman, perwakilan dari organisasi lingkungan dan kemanusiaan, berharap isu lingkungan dan pengungsi mendapat perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah. Mereka menyerukan kolaborasi untuk mengatasi masalah ini secara bersama-sama. [asg/ian]






