Surabaya (beritajatim.com) – Kadindik Jatim Aries Agung Paewai menegaskan jika pihaknya tak melarang sekolah tingkat SMA/SMK di Jatim untuk menggelar study tour. Namun, ia tetap memberikan catatan.
Seperti diketahui, beberapa waktu lalu terjadi sebuah insiden kecelakaan maut rombongan SMK Lingga Kencana Depok di Ciater, Subang, Jawa Barat.
Menyikapi itu, Aries secara tegas mengatakan jika tidak akan melarang kegiatan study tour. Pasalnya, kegiatan tersebut biasanya dimanfaatkan sekolah untuk mengenalkan siswa kepada dunia kampus.
Sebab itu, Aries tak melarang, tapi mengimbau agar sekolah saat study tour mengutamakan kampus di wilayah Jatim. Mengingat sudah banyak kampus di Jatim yang memiliki kualitas level nasional maupun internasional.
“Saya berharap sekolah, guru, mempertimbangkan kembali jika study tour. Utamakan dahulu di wilayah Jawa Timur. Kan ada Unair, Unibraw, ITS, Universitas Jember, UINSA dan berbagai universitas lainnya yang luar biasa hasil lulusannya,” ujar Aries, ditulis Sabtu (18/5/2024).
Meski demikian, Aries memberikan kelonggaran untuk keluar Jatim jika memiliki alasan ataupun target dan manfaat yang jelas. Di samping itu, Aries juga meminta sekolah untuk membuat sebuah SOP. “Tidak melarang tapi harus dibuat SOP yang jelas dan lengkap serta pengawasan yang melekat dari guru dan sekolah serta laporan berjenjang sampai ke dinas pendidikan,” katanya.
Pembuatan SOP itu, kata dia, harus melewati rapat bersama orang tua siswa dan sekolah, penentuan lokasi studi tour yang menghasilkan outcome bagi siswa dan sekolah. Kemudian pendanaan, transportasi yang layak jalan dan driver yang berkompoten.
Berikutnya mengatur soal akomodasi selama perjalanan, pelaporan berjenjang dari cabdin hingga bidang SMA/SMK terkait dan terakhir kepada kepala dinas. “Terakhir, yang terpenting fokus studi tour telah mendapatkan rekom untuk diterima,” tegasnya.
Tak kalah penting, tambah Aries, faktor kondisi kendaraan yang digunakan harus layak jalan sesuai hasil pemeriksaan oleh Dinas Perhubungan setempat termasuk kondisi kesehatan sopir. “Saya juga berharap tidak ada pemaksaan pelaksanaan studi banding apalagi bagi siswa dan orang tua yang tidak mampu kecuali mereka ikut dibantu dibiayai melalui bantuan sekolah,” pungkasnya. [ipl/kun]






